Yang Dilakukan Apabila Ada Sesuatu yang Menggembirakan

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ أَوْ يُسَرُّ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شُكْرًا لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam apabila ada sesuatu yang menggembirakan atau menyenangkannya, beliau bersujud, karena syukur kepada Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.[1]

Disalin dari terjemah Hisnul Muslim, hal. 195-196.


[1]     HR. Ashhabus Sunan, kecuali An-Nasai, lihat Shahih Ibnu Majah 1/233 dan Irwa’ul Ghalil 2/226

Syarah Istigfar dan Taubat (5)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Dan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,  ‘Seorang hamba berada dalam keadaan yang paling dekat dengan Tuhannya adalah di saat sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah oleh kalian do’a’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَقْرَبُ ‘paling dekat‘. Sebagian para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa sujud lebih utama daripada berdiri. Imam Ahmad Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dengan jumlahnya yang banyak lebih utama daripada lamanya berdiri, demikian yang benar.” Menurut madzhab Abu Hanifah Rahimahullah bahwa lamanya berdiri lebih utama daripada banyaknya jumlah ruku’ dan sujud. Demikian juga dikatakan Asy-Syafi’i. Hal itu karena sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ الْقُنُوْتِ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Sujud Tilawah (2)

اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَضَعْ عَنِّيْ بِهَا وِزْرًا، وَاجْعَلْهَا لِيْ عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ

“Ya Allah, tulislah untukku dengan sujudku pahala di sisi-Mu dan ampunilah dengannya akan dosaku, serta jadikanlah simpanan untukku di sisi-Mu dan terimalah sujudku sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Dawud.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ ‘ya Allah, tulislah untukku’, dengan kata lain, tetapkan bagiku dengannya -yakni sujud- أَجْرًا ‘pahala’.

Ungkapan وَضَعْ ‘dan ampunilah’, dengan kata lain, rontokkanlah.

Ungkapan وِزْرًا adalah ‘dosa’.

Ungkapan ذُخْرًا artinya ‘pundi-pundi’. Namun dikatakan pula pahala. Diulang-ulang karena maqam do’a adalah sesuai jika dipanjang-panjangkan. Dikatakan pula, yang pertama adalah permohonan dituliskannya pahala; sedangkan yang ini adalah permohonan tetapnya pahala itu dan selamat dari keguguran atau pembatalan.

Ungkapan كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ ‘sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Dawud’ ketika “… menyungkur sujud dan bertaubat.” (Shaad: 24). ltulah permohonan penerimaan yang mutlak.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Sujud Tilawah (1)

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

“Bersujud wajahku kepada Tuhan Yang menciptakannya, yang membelah pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya. (Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta).”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ ‘kepada Tuhan Yang menciptakannya, membelah pendengaran dan penglihatannya’ adalah bentuk pengkhususan setelah penyebutan secara umum, dengan kata lain, pembukaan keduanya dan pemberian kemampuan untuk mengetahui bagi keduanya.

Ungkapan بِحَوْلِهِ ‘dengan daya’, dengan kata lain, dengan memalingkan dan menjauhkan berbagai macam ben-cana dari keduanya.

Ungkapan وَقُوَّتِهِ ‘dan kekuatan-Nya’, dengan kata lain, kekuatan untuk bersikukuh dan selalu memperhatikan keduanya.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 176-177 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    At-Tirmidzi, (2/474), no. 580; Ahmad, (6/30); dan Al-Hakim. Dishahihkan dan disepakati Adz-Dzahabi, (1/220) dengan tambahan darinya. (Al-Mukminun; 14).

Syarah Doa Duduk Antara Dua Sujud (2)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَارْفَعْنِي

“Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku, tunjukkanlah aku (ke jalan yang benar), cukupkanlah aku, selamatkan aku (tubuh sehat dan keluarga terhindar dari musibah), berilah aku rezeki (yang halal) dan angkatlah derajatku..”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ‘ya Allah ampunilah dosaku’, dengan kata lain, segala dosaku atau segala keterbatasanku dalam ketaatan kepada-Mu.

Ungkapan وَارْحَمْنِيْ ‘berilah rahmat kepadaku‘, dengan kata lain, dari sisi-Mu dan bukan karena amalku. Atau sayangilah aku dengan penerimaan semua macam ibadahku.

Ungkapan وَاهْدِنِيْ ‘tunjukilah aku‘, dengan kata lain, beri aku taufik untuk melakukan segala macam amal shalih.

Ungkapan وَاجْبُرْنِيْ ‘cukupkanlah aku‘, dari kata جبْر dengan kasrah, bukan dari جبر yang artinya kekuatan untuk memaksa. Artinya, kiranya Engkau menutup semua kebutuhanku dan mencukupkanku.

Ungkapan وَعَافِنِيْ ‘selamatkanlah aku‘, dengan kata iain, dari segala macam bala di dunia dan di akhirat. Atau dari segala macam penyakit yang lahir dan yang batin.

Ungkapan وَارْزُقْنِيْ ‘berilah aku rezeki‘, dengan kata lain, dengan karunia dan anugerah-Mu.

Ungkapan وَارْفَعْنِي ‘dan angkatlah derajatku‘, yakni di dunia dan di akhirat dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 174-175 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Ditakhrij Ashhabussunan, kecuali An-Nasa’i; Abu Dawud, no. 850; At-Tirmidzi, no. 284; Ibnu Majah, no. 898. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (1/90) dan Shahih Ibnu Majah, (1/148).

Syarah Doa Duduk Antara Dua Sujud (1)

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ

“Wahai Rabb-ku, ampunilah dosaku, wahai Rabb-ku, ampunilah dosaku.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu Anhu.

Tersebut dalam shalat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada malam hari dan shalat malam beliau yang pan-jang dengan membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa”, dan Ali Imran, ruku’ beliau sama dengan panjang berdiri beliau, dan sujud beliau sedemikian pula … dan bahwa beliau dalam duduk di antara dua sujud mengucapkan رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ‘wahai Rabbku, ampunilah dosaku, wahai Rabbku, ampunilah dosaku’ dan beliau duduk sepanjang sujudnya.

Ini menunjukkan bahwa beliau menyebutkan: رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ‘wahai Rabbku, ampunilah dosaku, wahai Rabbku, ampunilah dosaku‘ lebih dari dua kali sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, tetapi beliau mengulang-ulang dan menegaskan permohonan ampunan.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 173 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Abu Dawud, (1/231), no. 874. Lihat Shahih lbnu Majah, (1/148).

Syarah Doa Sujud (7)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu dari kebencian-Mu, dan dengan ke-selamatan-Mu dari siksaan-Mu. Aku tidak membatasi pujian kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu kepada diri-Mu.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Al-Khaththabi Rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung dan memohon perlindungan kepada ridha-Mya dari murka-Nya, kepada ampunan-Nya dari siksaan-Mya. Ridha dan kemurkaan adalah dua hal yang bertentangan. Demikian juga ampunan dan siksaan. Ketika menyebutkan apa-apa yang tidak memiliki kebalikan, maka beliau berlindung kepada-Nya darinya dan tidak kepada selain-Nya.

Arti semua itu adalah istighfar dari keterbatasan dalam mencapai sesuatu yang wajib ketika beribadah dan memuji-Nya.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Sujud (5)

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Mahasuci (Allah) yang memiliki keperkasaan, kerajaan, kebesaran, dan keagungan.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Auf bin Malik Al-Asyja’i Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ذِي الْجَبَرُوْتِ “Yang memiliki keperkasaan’, الْجَبَرُوْت berasal dari kata: الْجَبَرَ yaitu ‘paksaan’. Kata ini adalah satu di antara sifat-sifat Allah Ta’ala dan dari kata ini kata yang lain: الْجَابِر. Yang artinya yang memaksa para hamba untuk melakukan apa yang diinginkan, baik berupa perintah atau larangan.

Ungkapan اْلمَلَكُوْتِ ‘kekuasaan’, dari kata الْمُلْك yang artinya ذِي الْمَلَكَوْت ‘Pemilik kekuasaan’: Pemilik kerajaan segala sesuatu.

Bentuk shighah fa’alut untuk mubalaghah ‘sangat’.

Ungkapan وَالْكِبْرِيَاءِ ‘kebesaran’, dengan kata lain, Mahasuci Dzat Yang memiliki kebesaran, dengan kata lain, keagungan dan kekuasaan. Dikatakan, “Dia adalah ungkapan tentang kesempurnaan dzat, kesempurnaan wujud, dan tidak mungkin disifati dengannya selain Allah Ta’ala.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 170, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Abu Dawud, (1/230), no. 873; An-Nasa’i, (2/191); dan Ahmad, (6/24). Isnadnya hasan.

Syarah Doa Sujud (4)

اَللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

“Ya Allah, untuk-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Tuhan Yang menciptakannya, yang membentuk rupanya, yang membelah (memberikan) pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-sebaik Pencipta.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ ‘membelah (memberikan) pendengaran dan penglihatannya’ adalah dari kata الشَّقُّ dengan huruf syin berfathah, yang artinya membelah dan membuka. Sedangkan الشِّقُّ dengan huruf syin berkasrah, artinya setengah sesuatu.

Ungkapan أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ ‘sebaik-sebaik Pencipta’, dengan kata lain, para penentu dan pelukis.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 169-170 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Muslim, (1/534), no. 771; dan selainnya.

Syarah Doa Sujud (3)

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

“Engkau, Tuhan Yang Mahasuci (dari kekurangan dan hal yang tidak layak bagi kebesaran-Mu), Mahaagung, Tuhan para malaikat dan Jibril.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan سُبُّوْحٌ ‘Mahasuci’, Yang jauh dari segala macam aib, dari ungkapan سَبَّحْتَ الله ‘engkau jauhkan Dia dari berbagai macam aib’.

Ungkapan قُدُّوْسٌ ‘Mahasuci’, Yang suci dari segala aib. Mahaagung dalam menjauhi segala macam apa yang memburukkan.

Baca pos ini lebih lanjut