Syarah Keutamaan Dzikir (2)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab/33: 41)

Dengan kata lain dzikirlah kepada Allah dengan lisan, dzikirlah kepada-Nya dalam segala keadaan, karena manusia tidak akan lepas, apakah dalam keadaan taat ataupun maksiat, nikmat ataupun sangat sulit. Jika dalam keadaan taat, maka dia harus dzikir kepada Allah Ta’ala dan tetap dengan ikhlas dan memohon kepada-Nya penerimaan dan taufik-Nya. Sedangkan jika dalam keadaan maksiat, maka dia harus dzikir kepada Allah Ta’ala dengan memohon taubat dan ampunan kepada-Nya. Sedangkan jika dalam keadaan nikmat, maka dia harus dzikir kepada-Nya dengan syukur kepada-Nya. Sedangkan jika dalam keadaan yang sangat sulit, maka dia harus dzikir kepada Allah dengan sabar.

Dikatakan, اذْكُرُوا اللَّهَ ‘berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah’ adalah pujilah Dia dengan berbagai macam pujian, baik berupa pensucian, pemuliaan, tahlil, pengagungan, dan semua pujian yang layak bagi-Nya. Dan perbanyaklah semua itu.

Bisa saja yang dimaksud dengan dzikir dan memperbanyaknya adalah memperbanyak semangat untuk beribadah. Sesungguhnya semua ketaatan dan semua kebaikan adalah bagian dari dzikir.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 59-60

Syarah Dzikir Setelah Salam (6)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ. عَقِبَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya a pa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255). Dibaca setiap usai shalat.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Umamah Al-Bahili, Shudayyu bin Ijlan Radhiyallahu Anhu.

Haditsnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ، لَـمْ يَمْنَعْهُ مَنْ دُخُوْلِ الْـجَنَّةِ إِلَّا الْـمَوْتُ

“Barangsiapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Setelah Salam (5)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِن شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ . إِلَهِ النَّاسِ . مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tiada seorang pun yang setara dengan Dia.’ Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai shubuh. Dari kejahatan makhlukNya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap-gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dan kejahatan pendengki bila dia dengki.’ Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan nienguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.’ Setelah setiap shalat.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu.

Haditsnya dengan lafazh,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepadaku agar aku membaca Al-Muawwidzat usai setiap shalat.”

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Ibnu Abbas

ABDULLAH BIN ABBAS
Pakar Penafsir al-Qur’an
Oleh: Ustadz Abu Faiz Sholahuddin al-Lampungi

Beliau adalah Abul Abbas Abdullah bin al-Abbas bin Abdil Muththalib bin Hasyim, bin Abdi Manaf al-Qurasyi al-Hasyimi, anak paman Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pada diri beliau terkumpul banyak kemuliaan:

  • Kemuliaan sahabat karena ia salah satu sahabat mulia Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
  • Kemuliaan nasab karena beliau adalah anak paman Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
  • Kemuliaan ilmu karena beliau adalah habrul ummah (ulamanya umat) dan turjumanul qur’an (penafsir al-Qur’an),
  • Kemuliaan takwa karena beliau adalah orang yang banyak puasa di siang hari, banyak shalat di malam hari, dan banyak menangis karena takut kepada Allah عزّوجلّ,
  • Kemuliaan paras karena beliau adalah seorang yang tampan dan gagah, berwibawa, sempurna akalnya, suci hatinya, terhitung di antara laki-laki yang sempurna.

Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi صلى الله عليه وسلم ke Madinah. Tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم meninggal dunia, beliau masih berumur tiga belas tahun. Namun demikian, beliau telah banyak menghafalkan hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم, hingga tercatat jumlah hadits yang beliau hafalkan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebanyak 1.660 hadits. Hai itu tidak mengherankan karena beliau adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi صلى الله عليه وسلم dan selalu bersama beliau ke mana pun beliau berada.

KEUTAMAAN BELIAU

Beliau memiliki banyak sekali keutamaan dan kemuliaan yang tidak dimiliki oleh selainnya. Keutamaan dan kemuliaan beliau didukung oleh beberapa hal, di antaranya:

Pertama: Beliau adalah sahabat yang dido’akan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم untuk difakihkan (dipaham-kan) dalam masalah agama

Beliau menceritakan sendiri, “Suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم memelukku ke dadanya lalu berdo’a, ‘Ya Allah, ajarkan kepadanya hikmah.”[1]

Dalam riwayat lain:

اللَّهُمَّ فَقَّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, fakihkan (pahamkan) ia dalam masalah agama, dan ajarkan padanya takwil (tafsirnya).”[2]

Maka Allah عزّوجلّ mengabulkan do’a Nabi-Nya, sehingga menjadilah Ibnu Abbas رضي الله عنهما imam dalam ilmu, ulamanya umat, dan beliau adalah ahli tafsir al-Qur’an al-Karim berkat do’a Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Agar Diberi Kepahaman Dalam Agama

اَللَّهُمَّ فَقِّهْنِيْ فِيْ الدِّيْنِ

“Ya Allah, berikanlah pemahaman kepadaku dalam diin (agama Islam).”

HR. Al-Bukhari /Fat-hul Baari 1/244 no. 143 dan Muslim IV/1927 no. 2477 mengenai do’a Nabi صلى الله عليه وسلم bagi Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما.
Dikutip dari: Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih, oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله