Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (8)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Perkataan yang paling disenangi Allah ada empat: سُبْحَانَ اللهِ ‘Mahasuci Allah, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، ‘Segala puji hanya bagi Allah, وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ ‘Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, dan وَاللهُ أَكْبَرُ ‘Allah Mahabesar’. Tidak memudharatkanmu (melindungimu) sesuatu apapun dari kalimat mana saja yang engkau ucapkan terlebih dahulu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Samurah bin Jundub Radhiyallahu Anhu.

 Ungkapan أَحَبُّ الْكَلاَمِ ‘perkataan yang paling disenangi’. An-Nawawi Rahimahullah dalam kitab Syarh Muslim berkata, “ini dibawa kepada makna ucapan bani Adam. Jika tidak, maka Al-Qur an lebih utama daripada tasbih dan tahlil secara mutlak. Sedangkan sesuatu yang matsur dalam suatu waktu atau keadaan dan lain sebagainya, maka menyibukkan diri dengannya adalah lebih utama.”

Menjadi demikian karena kalimat-kalimat itu mencakup makna-makna menjauhkan Allah dari sifat kurang dan mengesakannya (tauhid).[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 610-611.


[1]     Diriwayatkan Muslim, (3/1685), no. 2137.

Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (2)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، عَشْرَ مِرَارٍ، كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ

‘Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa mengucapkan:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

‘Tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (sepuluh kali), maka dia menjadi seperti orang yang membebaskan empat orang anak Ismail’.”[1]

Telah berlalu dalam penjelasan hadits no. 93. (Syarah Dzikir Pagi dan Petang (18)).[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 605.

 


[1]     Al-Bukhari, (7/67); dan Muslim dengan lafazh darinya, (4/2017).

Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (1)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa mengucapkan: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ‘Mahasuci Allah dan aku memuji-Nya’ dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya akan dihapuskan sekalipun seperti buih di   lautan.”‘[1]

Shahabat yang  meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan حُطَّتْ ‘dihapuskan’, dengan kata lain, diletakkan darinya.

Ungkapan زَبَدِ الْبَحْرِ ‘buih di lautan’, dengan kata lain, seperti buih seluruh air laut. Yang demikian digunakan dalam bentuk mubalaghah ‘melebihkan’, dengan kata lain, jika dipastikan bahwa dosa-dosanya itu berwujud materi dan seakan-akan sebanyak buih air laut, maka Allah Ta’ala mengampuninya dengan ucapan itu.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 604.


[1]     Al-Bukhari, (7/168), no. 6405; dan Muslim, (4/2071), no. 2691.

Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (7-12)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ؟ فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: قُلْ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abdullah bin Qais! Maukah kamu aku tunjukkan perbendaharaan Surga?” “Aku berkata: “Aku mau, wahai Rasulullah!” Rasulullah berkata: “Bacalah: Laa haula walaa quwwata illaa billaah.[1]

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Perkataan yang paling disenangi oleh Allah adalah empat: Subhaanallaah, Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallaah dan Allaahu akbar. Tidak mengapa bagimu untuk memulai yang mana di antara kalimat tersebut.”[2]

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: عَلِّمْنِيْ كَلاَمًا أَقُوْلُهُ. قَالَ: قُلْ: لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ. قَالَ: فَهَؤُلاَءِ لِرَبِّيْ فَمَا لِيْ؟ قَالَ: قُلْ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: ‘Ajari aku dzikir untuk aku baca!’ Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ‘Katakanlah: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah yang banyak. Maha Suci Allah, Tuhan sekalian alam dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.’ Orang Badui itu berkata: ‘Kalimat itu untuk Tuhanku, mana yang untukku?’ Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ‘Katakanlah: Ya Allah! Ampunilah aku, belas kasihanilah aku, berilah petunjuk kepadaku dan berilah rezeki kepadaku.”[3]

كَانَ الرَّجُلُ إِذَا أَسْلَمَ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ ثُمَّ أَمَرَهُ أَنْ يَدْعُوَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

Seorang laki-laki apabila masuk Islam, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam mengajarinya shalat, kemudian beliau memerintahkan agar berdoa dengan kalimat ini: ‘Ya Allah, ampunilah aku, belas kasihanilah aku, berilah petunjuk kepadaku, melindungi (dari apa yang tidak kuinginkan) dan berilah rezeki kepadaku.”[4]

إِنَّ أَفْضَلَ الدُّعَاءِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَأَفْضَلَ الذِّكْرِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ

Sesungguhnya doa yang terbaik adalah membaca: Alhamdulillaah. Sedang dzikir yang terbaik adalah: Laa Ilaaha Illallaah.[5]

الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Kalimat-kalimat yang baik adalah: “Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.[6]

Disalin dari terjemah Hishnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hal. 207-210.


[1]   HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari: 11/213 dan Muslim: 4/2076.
[2]   HR. Muslim: 3/1685.
[3]   HR. Muslim: 4/2072. Abu Dawud menambah: Ketika orang Arab Badui berpaling, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh dia telah memenuhi kebaikan pada kedua tangannya”. 1/220.
[4]  HR. Muslim: 4/2073, menurut riwayatnya ada keterangan: Sesungguhnya kalimat-kalimat tersebut akan mencukupi dunia dan akhiratmu.
[5]  HR. At-Tirmidzi: 5/462, Ibnu Majah: 2/1249, Al-Hakim: 1/503. Menurut Al- Hakim, hadits tersebut adalah shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya, Lihat pula Shahihul Jami’: 1/362.
[6] HR. Ahmad no. 513 menurut penertiban Ahmad Syakir, sanadnya shahih, lihat Majma’uz Zawa’id: 1/297, Ibnu Hajar mencantumkannya di Bulughul Maram dari riwayat Abu Sa’id kepada An-Nasa’i. Ibnu Hajar berkata: “Hadits tersebut adalah shahih menurut pendapat Ibnu Hibban dan Al-Hakim.

Syarah Takbir dan Tasbih dalam Perjalanan

قال جابر رضي الله عنه: كُنَّا إِذَا صَعَدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

“Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Apabila kami menanjak, membaca takbir, dan apabila kami turun, membaca tasbih’”.[1]

Ungkapan كُنَّا إِذَا صَعَدْنَا ‘apabila kami berjalan naik’, dengan kata lain, setiap kami menanjak di tempat-tempat yang tinggi di muka bumi, maka kami mengucapkan اللهُ أَكْبَرُ ‘Allah Mahabesar‘.

Ungkapan وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا ‘dan apabila kami turun membaca tasbih’, dengan kata lain, setiap kami menurun di tempat-tempat yang rendah di muka bumi, maka kami mengucapkan سُبْحَانَ اللهِ ‘Mahasuci Allah‘.

Bertakbir ketika berada di tempat yang tinggi adalah untuk menunjukkan rasa adanya kebesaran Allah Ta’ala dan keagungan-Nya. Sedangkan bertasbih ketika berada di tempat yang rendah adalah untuk menunjukkan rasa menjauhkan Allah Ta’ala dari segala macam kekurangan.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 518 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Al-Bukhari dalam Fathul Bari (6/135) no. 2993.

Syarah Takbir Ketika Melontar Jumroh

وَيُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ عِنْدَ الْجِمَارِ الثَّلاَثِ، ثُمَّ يَتَقَدَّمُ، وَيَقِفُ يَدْعُو مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، رَافِعًا يَدَيْهِ بَعْدَ الْجَمْرَةِ اْلأُوْلَى وَالثَّانِيَةِ. أَمَّا جَمْرَةُ الْعَقَبَةِ فَيَرْمِيْهَا وَيُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ وَيَنْصَرِفُ وَلاَ يَقِفُ عِنْدَهَا

“Beliau bertakbir pada setiap kali melemparkan tiga jamrah dengan batu kecil, kemudian beliau maju dan berdiri untuk berdo’a dengan menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, setelah melemparkan jamrah yang pertama dan kedua. Adapun untuk jamrah aqabah, beliau melempar dan bertakbir. Beliau tidak berdiri di sana, tapi langsung pergi.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Takbir Ketika Tiba di Rukun Aswad

طَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَيْتِ عَلَى بَعِيْرٍ كُلَّمَا أَتَى الرُّكْنَ أَشَارَ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ عِنْدَهُ وَكَبَّرَ

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan thawaf di Baitullah, di atas unta, setiap datang ke Rukun Aswad (tiang Ka’bah yang terdapat Hajar Aswad), beliau memberi isyarat dengan sesuatu yang dipegangnya dan bertakbir”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan الرُّكْنَ rukun, yaitu tempat yang di dalamnya Hajar Aswad.

Ungkapan بِشَيْءٍ عِنْدَهُ ‘dengan sesuatu yang dipegangnya’, yaitu tongkat yang bengkok ujungnya. []

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 553, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Al-Bukhari dalam  Fathul Bari, (1/476).  no.   1612.

Takbir dan Tasbih dalam Perjalanan

Bila seorang musafir dalam perjalannya berjalan naik (menanjak) membaca:

اللهُ أَكْبَرُ

dan bila berjalan turun (menurun) membaca:

سُبْحَانَ اللهِ

Hal ini hadits:

قال جابر رضي الله عنه: كُنَّا إِذَا صَعَدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

Dari Jabir رضي الله عنه dia berkata: “Kami apabila berjalan naik, membaca takbir, dan apabila kami turun, membaca tasbih.” (HR. Bukhari)

Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani

Takbir Hari Raya

Bacaan Takbir Hari Raya

أَللهُ أَكْبَر ، اَللهُ أَكْبَر ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ ، واَللهُ أكْبَر ، اَللهُ أَكْبَر ولِلهِ الْحَمْدُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah semata, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah. (Riwayat Imam Ibnu Abu Syaibah di dalam Mushannaf, hadis no: 5649; Mauquf pada Sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه)

Atau

اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ, اللهُ أَكْبَرُ وَ أَخَلُّ, اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar segala puji hanya bagi Allah, Allah Maha Besar lagi Maha Mulia, Allah Maha Besar di atas petunjuk yang telah diberikan kepada kita.(Riwayat Imam al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubra (III/315), Mauquf pada Sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما)

Atau

اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. (Riwayat Imam al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubra (III/316), Mauquf pada Sahabat Salman Al-Farisi رضي الله عنه)

Keterangan:

  1. Takbir ini dibaca pada kedua hari raya
  2. Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:Takbir pada hari `Ied al-Fithri dimulai ketika terlihatnya hilal (anak bulan)
  3. Rasulullah keluar pada hari Idul fithri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Musannaf 2/165. Lihat: Silsilah al-Ahadis as-Sahihah 170)
  4. Takbir Idhul Adha dimulai sejak terbit fajar pada hari Arafah. Berakhir pada hari Tasyriq setelah sholat Asar
  5. Takbir dilakukan dengan suara keras namun tidak bersama-sama dengan satu komando.

Referensi:
Ahkaamu Al Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Terbitan Pustaka Al-Haura’, melalui perantara SalafiDB 4.0
Sunnah Dalam Berhari Raya di http://fiqh-sunnah.blogspot.com/

Al Hafidh Ibnu Hajar:[3] “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذَا الْتَقُوْا يَوْمَ الْعِيْدِ يَقُوْلُ بَعْضَهُمْ لِبَعْضٍ:تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Para sahabat Nabi صلی الله عليه وسلم bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya :