Syarah Istigfar dan Taubat (3)

Dan Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam bersabda,

وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْـحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، غَفَرَ اللهُ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang membaca: ‘Aku minta ampun kepada Allah Yang Mahatinggi, tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Dia, Yang hidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya, aku bertaubat kepada-Nya, maka Allah mengampuni dosa-dosanya. Sekalipun dia pernah melarikan diri dari medan perang”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Zaid bin Baula (Ayah Yasar, budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam).

Ungkapan فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ ‘sekalipun dia melarikan diri dari medan pertempuran’. Ath-Thibiy Rahimahullah berkata, الزَّحْف adalah pasukan tentara yang sangat banyak yang terlihat seakan-akan melarikan diri karena banyaknya.”

Al-Muzhaffar Rahimahullah berkata, “Itu adalah perkumpulan pasukan tentara di hadapan pasukan lawan”, dengan kata lain, dari peperangan melawan orang-orang kafir di mana tidak boleh melarikan diri.”[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 599-600.


[1]  Ditakhrij Abu Dawud, (2/85), no. 1517; At-Tirmidzi, (5/569), no. 3577; dan Al-Hakim dan dia menyahihkannya yang disepakati Adz-Dzahabi (1/511). Juga dishahihkan Al-Albani. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/182); dan Jami’ Al-Ushul li Ahadits Ar-Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, (4/389-390) dengan tahqiq oleh Al-Arnauth.

Iklan

Syarah Istigfar dan Taubat (1 dan 2)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَاللهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dan tujuh puluh kali.'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku tidak melihat orang banyak melakukan istighfar daripada yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Sebelum Tidur (8)

سُبْحَانَ اللهِ (ثَلَاثَ وَثَلَاثِيْنَ) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ (ثَلَاثَ وَثَلَاثِيْنَ) وَاللهُ أَكْبَرُ (أَرْبَعًا وَثَلَاثِيْنَ)

” سُبْحَانَ اللهِ ‘Mahasuci Allah’ (tiga puluh tiga kali), الْحَمْدُ لِلَّهِ ‘segala puji bagi Allah’ (tiga puluh tiga kali) dan اللهُ أَكْبَرُ ‘Allah Mahabesar‘ (tiga puluh empat kali).”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah AH bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits itu adalah ucapan Ali Radhiyallahu Anhu:

أَنَّ فَاطِمَةَ رضي الله عنها أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ خَادِمًا، فَلَمْ تَجِدْ وَوَجَدَتْ عَائِشَةَ فَأَخْبَرَتْهَا قَالَ عَلِيٌ:  فَجَاءَنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا، فَقَالَ: أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا فَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَإِنَّهُ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

“Bahwa Fathimah Radhiyallahu Anha datang menghadap kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk meminta seorang pembantu kepada beliau. Namun dia tidak bertemu dengan beliau dan dia bertemu dengan Aisyah sehingga dia menyampaikannya kepada beliau. Ali berkata, ‘Maka kami didatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika kami telah mulai tidur.’ Beliau bersabda, ‘Maukah kutunjukkan kepada kalian apa-apa yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu? Jika kalian berdua hendak tidur, maka bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali. Sesungguhnya yang demikian lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu. ‘”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Sebelum Tidur (3)

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdo’a): ‘Ampunilah kami, ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (Al-Baqarah: 285-286).”[1]

Baca pos ini lebih lanjut

Dzikir Pagi dan Petang (11)

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

“Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi (yang diutus oleh Allah).” (Diucapkan tiga kali)

“Siapa yang membacanya tiga kali saat pagi dan petang tiga kali, maka Allah pasti akan meridhainya pada hari Kiamat.”[1]

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, wahai Tuhan Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan Engkau limpahkan (semua urusan) terhadap diriku walau sekejap mata.”[2]

Disalin dari Terjemah Hishnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, Hal. 89-90.


[1]     HR. Ahmad 4/337, An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 4 dan Ibnus Sunni no. 68. Abu Daud 4/418, At-Tirmidzi 5/465 dan Ibnu Baaz rahimahullah berpendapat, hadits ini hasan dalam Tuhfatul Akhyar.
[2]     HR. Al-Hakim yang dishahihkannya dan disetujui Imam Adz-Dzahabi 1/545, lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib 1/273.

Ucapan Bila Orang Kafir Memuji Allah Ketika Bersin

يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Semoga Allah memberi hidayah kepadamu dan memperbaiki kondisimu.”[1]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 464.


[1] At-Tirmidzi, (5/82), no. 2739; Ahmad, (4/400), dan Abu Dawud, (4/308), no. 5038. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (2/354).

Syarah Doa Orang yang Bersin

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُل: اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوْهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكُ اللهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ فَلْيَقُلْ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Jika salah seorang di antara kalian bersin hendaknya dia mengucapkan : اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ ‘Segala puji hanya bagi Allah‘. Sedangkan saudara atau sahabatnya hendaknya mengucapkan kepadanya: يَرْحَمُكُ اللهُ ‘Semoga Allah merahmatimu‘. Jika dia mengatakan kepadanya: يَرْحَمُكُ اللهُ ‘Semoga Allah merahmatimu‘, maka dia harus mengucapkan يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ‘Semoga Allah memberimu petunjuk dan membaguskan kondisimu’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوْهُ أَوْ صَاحِبُهُ ‘sedangkan saudara atau sahabatnya hendaknya mengucapkan’. Terdapat suatu keraguan dari perawi.

Ungkapan يَرْحَمُكُ اللهُ ‘semoga Allah merahmatimu‘. Ini bisa berkemungkinan sebagai do’a memohon rahmat, dan bisa juga sebagai informasi yang menyenangkan orang, dengan kata lain, itu adalah rahmat untukmu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Shalawat Atas Nabi (3)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, ‘Orang yang bakhil adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.

Mula Ali Al-Qari Rahimahullah berkata, “Siapa saja yang tidak bershalawat kepada beliau, maka dia telah menjadi seorang kikir dan telah mencegah dirinya untuk menakar yang lebih banyak. Sehingga tak seorang pun lebih kikir daripada dirinya.”

Al-Munawi Rahimahullah berkata, فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ ‘dia tidak membaca shalawat kepadaku‘, karena dia kikir kepada dirinya sendiri dengan mengharamkan baginya untuk mendapatkan shalawat dari Allah atas dirinya sepuluh kali jika dia bershalawat satu kali.”[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 530-531.


[1]     At-Tirmidzi (5/551). no. 3546; dan selainnya. Lihat Shahih Al-Jami ‘ (3/25) no. 2787 dan Shahih At-Tirmidzi (3/177)

Syarah Keutamaan Shalawat Atas Nabi (2)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِي عِيْدًا وَصَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّ صَلاَتَكَ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Janganlah kamu menjadikan kuburanku sebagai hari raya, dan bershalawatlah kalian kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku, di mana saja kalian ber-ada’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan عِيْدًا ‘hari raya‘. led adalah tempat kepadanya kembali, dengan kata lain, janganlah kalian jadikan kuburan tempat kembali sehingga kalian datang kepadanya setiap kali kalian ingin bershalawat kepadaku.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Ucapan Ketika Datang Hal yang Menyenangkan atau Dibenci

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا أَتَهُ الْأَمْرُ يَكْرَهُهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Jika kepada beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam datang perkara yang menggembirakannya, maka beliau berucap:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

‘Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih sempurna’.

Dan apabila datang kepada beliau perkara yang beliau tidak sukai, beliau berucap:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

‘Segala puji bagi Allah bagaimanapun juga’.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Baca pos ini lebih lanjut