Biografi Ringkas Imam Al-Khatib Al-Baghdadi Asy-Syafi’i

Nama lengkap beliau adalah Syaikh Imam Abu Bakar Muhammmad Ahmad bin Ali bin Tsabit, atau lebih populer dengan sebutan “Al Khathib Al Baghdadi”. Beliau adalah seorang penulis yang produktif, di antara karyanya yang paling terkenal adalah Tarikh Baghdad.

Beliau رحمه الله dilahirkan pada tahun 392 H dari keluarga miskin di Irak. Ayahnya bernama Khathib Darzanjan. Ia sangat terobsesi dengan sang anak. Ia masukkan anaknya ke majelis semaan (pengajian dengan sistem menyimak/talaqi) sejak dini (tahun 403 H), kemudian disuruhnya ia memperdalam ilmu hadits. Maka, sang anak pun pergi mengembara ke berbagai wilayah, memperdalam ilmu, mengarang, dan mengumpulkan literatur. Ia sangat mahir dalam disiplin ilmu hadits.

 Beliau menyimak (hadits dari) sejumlah besar kalangan muhadditsin yang tsiqah (kredibel) di berbagai kawasan, seperti: Baghdad, Bashrah, Naisabur, Ashbahan, Dainur, Hamadan, Kufah, Haramain (Makkah dan Madinah), Damaskus, Al Quds, dan lain-lain. Beliau datang ke Syam (Syiria) pada tahun 451 H dan menetap di sana selama 11 tahun.

Baca pos ini lebih lanjut

Riwayat Imam Nawawi

Disamping gelar Al-Imam, beliau juga menjadat gelar sebagai Al-Hafiz, Al-Faqih, Al-Muhaddith, pembela As-Sunnah, penentang bid’ah, pejuang ilmu-ilmu agama. Nama lengkapnya adalah Abu Zakariya bin Syaraf bin Mari bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam An-Nawawi Ad-Dimasyqi.

Beliau dilahirkan di desa Nawa yang termasuk wilayah Hauran pada tahun 631H. Kakek tertuanya Hizam singgah di Golan menurut adat Arab, kemudian tinggal di sana dan Allah سبحانه و تعالى memberikan keturunan yang banyak, salah satu diantara adalah Imam Nawawi.

Banyak orang terkemuka di sana yang melihat anak kecil memiliki kepandaian dan kecerdasan. Mereka menemui ayahnya dan memintanya agar memperhatikannya dengan lebih seksama. Ayahnya mendorong sang Imam menghafazkan Al-Qur’an dan ilmu. Maka An-Nawawi mulai menghafaz Al-Qur’an dan dididik oleh orang-orang terkemuka dengan pengorbanan harus meninggalkan masa bermain-mainnya karena harus menekuni Al-Qur’an dan menghafaznya. Sebagain gurunya pernah melihat bahwa Imam Nawawi bersama anak-anak lain dan memintanya bermain bersama-sama. Karena sesuatu terjadi diantara mereka, dia lari meninggalakn mereka sambil menangis karena merasa dipaksa. Dalam keadaan yang demikian itu dia tetap membaca Al-Qur’an.

Demikianlah, sang Imam tetap terus membaca Al-Qur’an sampai dia mampu menghafaznya ketika mendekati usia baligh. Ketika berusia 9 tahun, ayahnya membawa dia ke Damsyiq untuk menuntut ilmu lebih dalam lagi. Maka tinggallah dia di Madrasah Ar-Rawahiyah pada tahun 649H. Dia hafal kitab At-Tanbiih dalam tempo empat setengah bulan dan belajar Al-Muhadzdzab karangan Asy-Syirazi dalam tempo delapan bulan pada tahun yang sama. Dia menuntaskan ini semua berkat bimbingan gurunya Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin Usman Al-Maghribi Al-Maqdisi. Dia adalah guru pertamanya dalam ilmu fiqh dan menaruh memperhatikan muridnya ini dengan sungguh-sungguh. Dia merasa kagum atas ketekunanannya belajar dan ketidaksukaanya bergaul dengan anak-anak yang seumur. Sang guru amat mencintai muridnya itu dan akhirnya mengangkat dia sebagai pengajar untuk sebagian besar jamaahnya.

GURU-GURU IMAM NAWAWI

Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal seperti Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ashari, Zainuddin bin Abdud Daim, Imaduddin bin Abdul Karim Al-Harastani, Zainuddin Abui Baqa, Khalid bin Yusuf Al-Maqdisi An-Nabalusi dan Jamaluddin Ibn Ash-Shairafi, Taqiyyuddin bin Abui Yusri, Syamsuddin bin Abu Umar. Dia belajar fighul hadits pada Asy-Syeikh Al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi Al-Andalusi. Kemudian belajar fiqh pada Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin usman Al-Maghribi Al-Maqdisi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh dan Izzuddin Al-Arbili serta guru-guru lainnya. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Ibnul Jauzi

Riwayat Hidup Imam Ibnul Jauzi[1]
(508-597 H/1114-1201 M)

Dia adalah ‘Abdurrohman bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin Abdillah bin Hadi bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far Al-Jauzi: Abu Al-Faroj, Al-Qurosyi At-Taimi Al-Bakri.

Silsilah keturunannya bersambung sampai kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Dia menuturkan tentang silsilah keturunannya, “Dan ketahuilah bahwa kami termasuk anak cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq.”

Dia رحمه الله dikenal dengan imbuhan Al-Baghdadi di akhir namanya, karena ia lahir dan tinggal di kota Baghdad. Dia pun juga dikenal dengan imbuhan nama Al-Hanbali, karena ia menjadi pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله.

Ibnul Jauzi besar di kota Baghdad. Dia telah mencari ilmu semenjak masih kecil. Karena itu dia telah hafal Al-Quran pada usia dini. Dan dia menimba ilmu hadits kepada Abu Al-Fadhl bin Nashir Al-Hanbali, seorang penghafal hadits yang tsiqoh. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Ibnu Abil ‘Izzi

Beliau رحمه الله Adalah Al-Imam Al-Allamah Shadruddien Abul Hasan Ali bin ‘Ala’uddien Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi Al-Adzru’i Ash-Shalihi Ad-Dimasyqi. Dilahirkan thun 731 H. Besar sangkaan saya bahwa beliau dilahirkan di Damaskus. Karena ayah, kakek dan buyutnya berdomisili di sana.

Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, penuh kemuliaan. Ayahnya pernah menjadi seorang Qadhi. Demikian juga kakeknya adalah penghulunya para Qadhi.

Pertama kali beliau berguru kepada Al-Hafizh Abul Fida’ ‘Imaduddien Ibnu Katsir, sebagaimana disebutkan dalam beberapa tempat dalam “Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah”. Beliau mengemban tugas mengajar pada beberapa perguruan di Damaskus. Lalu bertugas selaku Qadhi, juga di Damaskus.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Al-Imam Ibnu Abi Hatim

Imam Ibnu Abi Hatim:

Beliau adalah seorang Hafidz, kritikus, muhadits, ahli tafsir, Al ‘Allamah Abdurrahman Bin Muhammad Bin Idris Bin Mudzir Bin Daud Bin Mahran (Abu Muhammad) Bin Abi Hatim Al Hanzholi Ar Rozi.

Kelahiran, Perkembangan dan Menuntut Ilmu:

Beliau dilahirkan tahun 240 Hijriyah. Beliau mengatakan, “Ayahku tidak meninggalkanku dengan hadits sampai aku bisa membaca Al Qur’an dengan belajar kepada Al Fadhl Bin Syadzan”. Setelah itu belia langsung belajar kepada ayahnya Imam Abu Hatim Ar Rozi dan Imam Abu Zur’ah serta selain keduanya yang termasuk muhaddits negeri Ray.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid

Nasabnya:

Beliau adalah Bakr bin ‘Abdullah, Abu Zaid bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Bakr bin ‘Utsman bin Yahya bin Ghaihab bin Muhammad. Silsilah ini berhenti hingga Bani Zaid teratas, yaitu Zaid bin Suwaid bin Zaid bin Suwaid bin Zaid bin Haram bin Suwaid bin Zaid, al-Qudlaa’i, dari kabilah Bani Zaid al-Qudlaa’iyyah yang tersohor di kawasan al-Wasym dan dataran tinggi Nejd. Di sanalah Syaikh Bakr Abu Zaid dilahirkan, yaitu pada tahun 1365 H.

Kehidupan Ilmiahnya:

Di tempat kelahirannya, ia belajar di sekolah biasa hingga kelas dua ibtidaiyah, kemudian pindah ke Riyadh tahun 1375 H di mana ia melanjutkan ibtidaiyahnya di sana, kemudian meneruskan ke Ma’had ‘Ilmi, kemudian fakultas syari’ah hingga wisuda pada tahun 1387/1388 H.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam al-Ajurri Asy-Syafi'i

Nama dan Nasab Beliau:

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al Baghdadi Al Ajurri. Kunyah (baca: kun-yah) beliau Abu Bakr. Beliau berasal dari sebuah desa di bagian barat kota Baghdad yang bernama Darbal Ajur. Beliau lahir dan tumbuh di sana.

Para Guru Beliau:

Imam Al Ajurri menimba ilmu dari segolongan ulama terkenal, di antaranya :

  1. Imam Ibrahim bin Abdillah bin Muslim bin Ma’iz Abul Muslim Al Bashri Al Kajji. Beliau adalah Al Hafidh , Al Mu’ammar, Shahibus Sunan . Imam ini adalah guru terbesar Imam Al Ajurri. Syaikh Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 190 H dan wafat tahun 292 H di Baghdad. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Bashrah dan dimakamkan di sana.
  2. Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin Al Faizuran Al Usynani. Beliau adalah Syaikhul Qurra’ di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 307 H.
  3. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Ibnu Daqiq Al-Ied Asy-Syafi’i

NAMANYA

Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ al-Qusyairi al-Manfaluthi ash-Sha’idi al-Maliki asy-Syafi’i, banyak menulis kitab dan dia juga pensyarah arbai’in Nawawi.

KELAHIRANNYA

Dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 625, dekat Yanbu’, Hijaz. Ia رحمه الله mendengar dari Ibnul Muqirah, tetapi ia ragu mengenai cara pengambilan. Ia menuturkan dari Ibnu al-Jumaizi, Sabth as-Salafi, al-Hafizh Zakiyuddin, dan sejumlah kalangan. Sementara di Damaskus dari Ibnu Abdid Da’im dan Abul Baqa’ Khalid bin Yusuf.

KARYA TULISNYA

Ia menulis Syarh al-Umdah, kitab al-Ilmam, mengerjakan al-Imam fi al-Ahkam, yang seandainya selesai tulisannya niscaya mencapai 15 jilid, dan mengerjakan kitab mengenai ilmu-ilmu hadits.

Ia salah seorang cendekiawan pada masanya, luas ilmunya, banyak kitab-kitabnya, senantiasa berjaga (untuk shalat malam), senantiasa dalam kesibukan, tenang lagi wara’. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Ringkas Imam Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i

Beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin ‘Utsman bin Qaimaz At-Turkmaniy Al-Fariqiy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’iy yang lebih masyhur dengan Adz-Dzahabi.

Beliau dilahirkan di Damaskus pada tahun 673 H/ 1274 M.

Beliau menuntut ilmu dari para Syaikh di negeri Syam, Mesir, dan Hijaz. Beliau juga mengunjungi berbagai negeri untuk tujuan ini. Beliau memiliki kapabilitas yang tinggi dalam berbagai disiplin ilmu; khususnya qira’at Al-Qur’an dan Hadits. Kenalan-kenalan beliau mengakui hafalan beliau. Beliau digelari dengan ‘Imamul Wujud Hifzhan’ (imamnya semua yang ada dalam hal hafalan), ‘Syaikhul Jarhi wat Ta’dil’ (pakar dalam menilai ketsiqqahan perawi), dan ‘Rajulur Rijdl fi kulli Sabil’ (satu dari seribu orang dalam seluruh disiplin ilmu). Suara beliau terdengar sampai ke ufuk dan para penuntut ilmu dari berbagai negeri pun menimba ilmu dari beliau.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Syafi'i

Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza ) di bumi Palestina  pada tahun 150 H, lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia, Idris bin Abbas Asy-Syafi’i dengan seorang wanita dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya dinamai Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i . Demikian nama lengkapnya sang bayi itu. Namun kebahagiaan keluarga miskin ini dengan kelahiran bayi tersebut tidaklah berlangsung lama. Karena beberapa saat setelah kelahiran itu, terjadilah peristiwa menyedihkan, yaitu ayah sang bayi meninggal dunia dalam usia yang masih muda. Bayi lelaki yang rupawan itu pun akhirnya hidup sebagai anak yatim.

Sang ibu sangat menyayangi bayinya, sehingga anak yatim Quraisy itu tumbuh sebagai bayi yang sehat. Maka ketika ia telah berusia dua tahun, dibawalah oleh ibunya ke Makkah untuk tinggal di tengah keluarga ayahnya di kampung Bani Mutthalib. Karena anak yatim ini, dari sisi nasab ayahnya, berasal dari keturunan seorang Shahabat Nabi صلي الله عليه وسلم yang bernama Syafi’ bin As-Sa’ib. Dan As-Sa’ib ayahnya Syafi’, sempat tertawan dalam perang Badr sebagai seorang musyrik kemudian As-Sa’ib menebus dirinya dengan uang jaminan untuk mendapatkan status pembebasan dari tawanan Muslimin. Baca pos ini lebih lanjut