Doa Rasulullah Untuk Urwah Ibnu Abu al-Ja’di al-Bariqi

Kisahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi beliau satu dinar untuk membeli seekor kambing, lalu dibelikannya dengan uang tadi dua ekor kambing, maka dia jual salah satu kambing itu dengan satu dinar, lantas dia datang kepada Nabi dengan uang satu dinar dan seekor kambing, maka Nabi mendo’akannya agar mendapat barokah dalam berjual beli dan kalaulah dia membeli tanah pasti dia akan mendapatkan keuntungan di dalamnya. (HR. al-Bukhari).

Dan di dalam Musnad Ahmad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a untuknya:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِيْ صَفْقَةِ يـَمِيْنِهِ

“Ya Allah, berkahilah dia di dalam barang jualannya.”

Maka dia berdomisili di Kuffah dan dia mendapatkan untung 40 ribu sebelum dia kembali ke keluarganya. (HR. Ahmad).[]

Disalin dari Kitab Agar Doa Dikabulkan Karya Syaikh Said bin Ali Wahf al-Qahthani pada Pasal V: Perhatian para Rasul terhadap do’a dan Allah Memperkenankan do’a mereka, hal. 94-95, Penerbit Darul Haq-Jakarta.

Larangan Thiyarah

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما: ia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Barang siapa mengurungkan niatnya karena thiyarah,[1] maka ia telah berbuat syirik.’ Para Sahabat bertanya: ‘Lalu, apakah tebusan-nya?’ Beliau menjawab: ‘Hendaklah ia mengucapkan:

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.'”[2]

Tathayyur termasuk adat Jahiliyyah. Mereka biasanya berpatokan kepada burung-burung, jika mereka lihat burung itu terbang ke arah kanan, mereka bergembira dan meneruskan niat. Jika burung itu terbang ke arah kiri, mereka anggap membawa sial dan mereka menangguhkan niat. Bahkan, sebagian mereka sengaja menerbangkan burung untuk meramal nasib.

Syari’at yang hanif ini telah melarang segala macam bentuk tathayyur. Sebab, thair (burung) tidak memiliki keistimewaan apa pun sehingga gerak-geriknya harus dijadikan sebagai petunjuk untung atau rugi. Dalam banyak hadits, Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menegaskan berulang kali: “Tidak ada thiyarah!” Penegasan seperti ini juga dinuki! dari sejumlah Sahabat رضي الله عنهم.

Baca pos ini lebih lanjut