Keutamaan Waktu Pagi dan Keberkahannya

Imam Muslim  meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah Al-Asadiy, dia berkata, “Suatu hari, kami pergi di waktu pagi menuju Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tepatnya setelah selesai mengerjakan shalat Shubuh. Kami memberi salam di pintu dan beliau  memberi izin kepada kami.” Beliau (Abu Wa’il) berkata, “Kami berdiam sesaat di pintu” (yakni menunggu beberapa waktu lamanya). Lalu seorang perempuan keluar dan berkata,  “Tidakkah kamu mau masuk?” Lalu kami pun masuk. Ternyata beliau (Ibnu Mas’ud) sedang duduk bertasbih. Beliau berkata, “Apa yang menghalangi kalian untuk masuk sementara telah diizinkan kepada kamu?” Kami berkata, “Tidak ada, hanya saja kami mengira sebagian penghuni rumah masih tidur.” Beliau berkata,  “Kamu menduga keluarga Ibnu Ummi Abdin lalai?” (Maksudnya, dirinya sendiri, karena ibu Ibnu Mas’ud adalah Ummu Abdin Al-Hudzaliyah radhiyallahu ‘anha). Abu Wa’il berkata, “Lalu beliau meneruskan bertasbih. Hingga ketika dia menduga matahari telah terbit maka beliau berkata,  ‘Wahai perempuan,  lihatlah  apakah matahari telah terbit?’ Perempuan itu melihat dan temyata matahari belum terbit. Maka beliau kembali melanjutkan bertasbih. Hingga ketika dia mengira matahari telah terbit maka beliau berkata, ‘Wahai perempuan, lihatlah apakah matahari telah terbit?’ Perempuan itu melihat dan temyata matahari telah terbit. Maka beliau berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memaafkan kita hari ini dan tidak membinasakan kita dengan sebab dosa-dosa kita.'”[1]

Atsar ini memberikan kepada orang yang mencermati akan gambaran jelas dan petunjuk yang terang akan kehidupan yang penuh kesungguhan, semangat yang tinggi, dan pemamfaatan waktu di kalangan salafusshalih. Terutama sekali para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Disertai pemahaman mereka tentang waktu-waktu, pengetahuan mengenai kadar-kadarnya, serta yang lebih utama darinya, dan memberikan setiap pemilik hak akan haknya.

Waktu di mana Abu Wa’il dan para sahabatnya menemui Ibnu Mas’ud adalah waktu yang mengandung berkah dan sangatlah berharga. la adalah waktu dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kesungguhan, kegiatan, dan semangat dalam kebaikan. Hanya saja banyak di antara manusia mengabaikannya dan melalaikannya serta tidak mengetahui baginya martabat dan kedudukannya. Terkadang mereka menyia-nyiakannya dengan tidur, atau bermalas-malasan dan kurang semangat, atau menyibukkan dengan urusan-urusan yang rendah. Padahal awal hari menempati posisi masa mudanya, dan akhirnya menempati posisi masa tuanya.[2] Barang siapa pada masa muda terbiasa dengan sesuatu niscaya dia akan terbiasa dengannya hingga beruban. Oleh karena itu, apa yang berlaku atas seseorang di pagi hari dan awalnya, niscaya akan berlangsung terus atasnya di sisa harinya. Jika giat maka akan terus giat, bila malas niscaya akan terus malas. Barang siapa memegang kendali hari (yaitu awalnya), maka akan selamat baginya harinya seluruhnya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan diberi pertolongan untuk mendapatkan kebaikan, serta diberkahi untuknya padanya. Dalam pribahasa dikatakan, “Harimu seperti untamu. Jika engkau memegang awalnya, niscaya akhirnya akan mengikutimu.” Makna ini diambil dari atsar Ibnu Mas’ud terdahulu, di mana ketika telah terealisasi bagi beliau radhiyallahu ‘anhu pemanfaatan awal hari itu dengan dzikir maka beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang memaafkan kita hari ini dan tidak membinasakan kita dengan sebab dosa-dosa kita.”

Baca pos ini lebih lanjut

Ayat Kursi: Dzikir di 8 Tempat

Keutamaan Ayat Kursi:

Dari Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه, katanya: “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

يا أَبا الـمُـــنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيةٍ مِن كتاب اللَّهِ معكَ أَعْظَمُ ؟

“Hai Abul Mundzir, adakah engkau mengetahui, ayat manakah dari Kitabullah – yakni al-Quran – yang ada besertamu itu yang teragung?

قُلْتُ : اللَّه لا إِلهَ إِلاَّ هُو الحَيُّ الْقَيُّومُ

Saya lalu menjawab:  “Yaitu Allahu la ilaha ilia huwal hayyul qayyum, (Ayat Kursi).

فَضَربَ في صَدْري وَقَال : لِيهْنكَ الْعِلْمُ أَبَا المــُنذِرِ

Beliau صلي الله عليه وسلم lalu menepuk-nepuk dadaku dan bersabda: “Semoga engkau mudah memperoleh ilmu, hai Abul Mundzir.” (HR. Muslim)

8 Tempat Ayat Kursi Dibaca Sebagai Dzikir:

  • 1 s/d 5 setiap selesai sholat wajib
  • 6 dan 7 dzikir pagi dan sore
  • 8 dzikir sebelum tidur

Demikianlah ayat yang mulia ini paling tidak dibaca di 8 tempat setiap harinya atau di 6 tempat bagi yang berpendapat boleh digabungkannya bacaan ayat kursi pada dzikir setelah sholat subuh dan dzikir pagi serta digabungkannya setelah sholat ashar dan dzikir sore.

Untuk dzikir pagi dan petang serta dzikir setelah sholat silahkan download ebooknya disini, dan dzikir tidur silahkan download eBook Adab Tidur.

Teks Ayat Kursi:

اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Baqoroh [2]:  255)[]

Tempat dan Waktu Membaca Shalawat Nabi

TEMPAT-TEMPAT DAN WAKTU YANG DISYARI’ATKAN MENGUCAPKAN SHALAWAT DAN SALAM KEPADA RASULULLAH صلى الله عليه وسلم

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله

1. Di dalam shalat ketika tasyahhud/ tahiyyat awal dan akhir.[1] Berdasarkan hadits Fadhalah bin ‘Ubaid al-Anshari رضي الله عنه, “Nabi صلى الله عليه وسلم menegur seseorang yang tidak bershalawat kepada beliau.” [2]

Imam asy-Syafi’i رحمه الله, berkata: “Tasyahhud awal dan akhir lafazhnya sama, tidak ada perbedaan, yang saya maksud dengan tasyahhud ialah tasyahhud dan shalawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم, karena tidak sempurna bila salah satunya ditinggalkan.” [3]

Basyir bin Sa’ad رضي الله عنه pernah bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم: “Bagaimana shalawat kepada Nabi dalam shalat?” Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم mengajarkannya… [4]

2. Di dalam shalat Jenazah sesudah takbir yang kedua. Disunnahkan membaca shalawat dalam shalat Jenazah sesudah takbir yang kedua berdasarkan riwayat yang masyhur dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif.[5]
3. Di dalam khutbah: seperti khutbah Jum’at, ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha, Istisqa’ dan lain-lain.[6]
4. Setelah menjawab Adzan.[7]
5. Ketika berdo’a. Ada tiga cara:

Baca pos ini lebih lanjut

Tambahan Kalimat Adzan Ketika Hujan Lebat

Disunnahkan bagi mu’adzin ketika adzan pada saat turun hujan untuk mengucapkan:

صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ

“Sholatlah di rumah-rumah kalian.” atau

أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ

“Sholatlah ditempat-tempat kalian.”

Tambahan ini dibaca pada salah satu tempat yaitu:

  1. Di akhir adzan langsung.
  2. Di tengah adzan, pengganti haya ‘alash sholah
  3. Boleh juga diucapkan setelah mengucap hayya alash sholah dan hayya alal falah.

Lihat tentang kajian ini pada eBook kami yang dapat didownload disini