Syarah: Doa Setelah Wudhu (3)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

” Mahasuci Engkau ya Allah, aku memuji kepada-Mu. Aku bersaksi, bahwa tiada Ilah Yang hak disembah selain Engkau. Aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.”[1]

Shahabat yang merawikan hadits ini adalah Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ‘Mahasuci Engkau ya, aku memuji kepada-Mu‘, سُبْحَانَ ‘Mahasuci‘ adalah ism yang diposisikan pada fungsi mashdar, yaitu التَّسْبِيْحُ .Dia manshub adalah karena kata kerja yang disembunyikan, aslinya adalah, أُسَبِّحُكَ تَسْبِيْحَا ‘aku sucikan engkau dengan sesuci-sucinya.” Dengan kata lain, aku jauhkan Engkau dari segala keburukan dan kekurangan. Dikatakan pula, aslinya adalah أُسَبِّحُكَ تَسْبِيْحَا مُقْتَرِنًا بِحَمْدِكَ ‘ aku sucikan Engkau dengan sesuci-sucinya yang dibarengi dengan pujian untuk Anda’.

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Syarah: Doa Setelah Wudhu (2)

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci “[1]

Shahabat yang merawikan hadits ini adalah Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan التَّوَّابِيْنَ ‘orang-orang yang bertaubat‘ adalah bentuk jamak dari kata تَوَّابٌ, ‘banyak bertaubat‘ dan kata ini termasuk sifat mubalaghah (berfungsi untuk menunjukkan banyak). Taubat adalah kembali dari maksiat kepada Allah Ta’ala menuju ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Para ulama berkata, “Taubat dari segala macam dosa adalah wajib. Jika kemaksiatan antara hamba dan Allah Ta’ala tiada sangkut-pautnya dengan hak manusia, maka taubatnya harus dengan tiga macam syarat: (1) hendaknya melepas dari kemaksiatan, (2) harus menyesali apa-apa yang telah dia perbuat, dan (3) berkemauan keras untuk tidak kembali melakukannya.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Dzikir Sebelum Wudhu

بِسْمِ اللهِ

” Dengan nama Allah (aku berwudhu).”[1]

Perawi hadits ini adaiah Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dan selainnya.

Seutuhnya hadits ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا وُضُوءَ لَهُ، وَلَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

”Tidak sah shalat bagi orang yang tidak berwudhu. Tidak sah wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah di dalamnya”[2]

Baca pos ini lebih lanjut

DZIKIR Pembuka 8 Pintu Surga

Dan Umar bin Khoththob رضي الله عنه dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم beliau bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِــــغُ – الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

“Tidak ada orang pun dan kalian yang berwudhu lain menyempurnakan wudhunya kemudian mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

(Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Alloh semata, tidak ada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.)

Kecuali akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia boleb masuk dan pintu manapun yang diasukai. (HR. Muslim 1209 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Gholil 96)

Faedah-faedah berharga:

1. Syaikh Salim bin led al-Hilali mengatakan: “Di antara faedah dari hadits di atas adalah: 1). Disunnahkan menyempurnakan wudhu, 2). Disunnahkan membaca dzikir ini setelah wudhu, 3). Bahwa surga memiliki delapan pintu.’ (lihat Bahjatun Nazhirin 2/250) Baca pos ini lebih lanjut

Bacaan Sebelum Ber-Wudhu'

بِسْمِ اللهِ

“Dengan nama Allah (aku berwudhu’)”
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lihat Irwa’ul Ghalil 1/122)


Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani