Syarah Dzikir Pagi dan Petang (23)

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. (ثَلَاسَ مَرَّاتٍ إِذَا أَمْسَى)

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang Dia ciptakan.” (Dibaca tiga kali jika sore tiba)[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits,

أَنْ مَنْ قَالَـهَا حِيْنَ يُمسِي ثَلَاسَ مَرَّاتٍ لَمْ تَضُرَّهُ حُمَةُ تِلْكَ الْلَيْلَةِ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (22)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. (مِائَةً مَرَّةٍ فِي الْيَوْمِ)

“Aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” (Dibaca seratus kali sehari).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Al-Agharr bin Yasar Al-Muzani Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ ‘aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya’ adalah nyata bahwa beliau memohon ampunan dan berkeinginan keras untuk bertaubat.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (18)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. (عَشَرَ مَرَّاتٍ أَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً)

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca sepuluh kali[1] atau satu kali [2])

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Ayyasy Radhiyallahu Anhu. Dikatakan, “Namanya adalah Zaid bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu.” Dikatakan pula, “Zaid bin An-Nu’man Radhiyallahu Anhu.” Dan dikatakan pula nama yang lain.[3]

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (9)

حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. (سَبْعَ مَرَّاتٍ)

“Cukup bagiku Allah (sebagai pelindung), tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Dia. Kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan ‘Arsy Yang Agung.” (Dibaca tiga kali).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits, bahwa orang yang mengu-capkannya di pagi hari dan demikian juga di sore hari tujuh kali, maka Allah akan mencukupkan apa-apa yang penting baginya dari urusan kehidupan dunia dan akhirat.

Ungkapan حَسْبِيَ اللهُ ‘hanya Allahlah Pernolongku’, dengan kata lain, Allah Ta’ala telah mencukupkan bagiku segala sesuatu.

Ungkapan عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ‘kepada-Nya aku bertawakal’, dengan kata lain, aku bersandar kepada-Mu.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 260-261.


[1]     Ditakhrij Ibnu As-Sunni, no. 71 dengan derajat marfu; Abu Dawud, (4/321), dengan derajat mauquf, no. 5081. Syuaib dan Abdul Qadir Al-Arnauth menyahihkan hadits ini. Lihat Zaad Al-Ma’ad, (2/376). Dan telah didhaifkan Syaikh Al-Albani Rahimahullah. Lihat Dhaif Abu Dawud.

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (4)

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

وَإِذَا أَمْسَى قَالَ: اَللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْـمَصِيْرُ

“Ya Allah, dengan nikmat-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan nikmat-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan dengan nikmat-Mu kami hidup dan dengan nikmat-Mu kami mati. Dan kepada-Mulah kami dibangkitkan.”[1]

Dan jika di sore hari, maka mengatakan,

“Ya Allah, dengan nikmat-Mu kami memasuki waktu sore ini, dengan nikmat-Mu kami memasuki waktu pagi, nikmat-Mu kami hidup, nikmat-Mu kami mati, dan kepada-Mulah kami kembali.”

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (3)

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

وَإِذَا أَمْسَى قَالَ: أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ

وَإِذَا أَمْسَى قَالَ: رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا

“Kami telah memasuki waktu pagi, kerajaan milik Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Tuhanku, aku mohon kepada-Mu kebaikan hari mi dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.”[1]

Bila sore hari mengatakan, “Kami di sore ini dengan kesadaran bahwa segala kerajaan adalah milik Allah.”

Bila sore hari mengatakan, “Wahai Rabbku, aku memohon kebaikan apa-apa yang ada di malam ini dan kebaikan apa-apa yang ada setelahnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa-apa yang ada di malam ini dan dari keburukan yang ada setelahnya.”

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir Pagi dan Sore

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، والصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ:

“Segala puji bagi Allah Yang Esa. Shalawat dan salam atas orang yang tiada nabi setelahnya.”

Dengan ucapan ini penyusun menghendaki menyibukkan diri dengan dzikir kepada Allah Ta’ala. Dan shalawat atas Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam waktu-waktu itu.

Korektor berkata, “Aku menghendaki agar setiap Muslim memulai dengan pujian kepada Allah Ta’ala dan shalawat serta salam atas Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kemudian dzikir kepada Allah ta’ala.”[1]

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.105 pengikut lainnya.