Syarah Dzikir Pagi dan Petang (7)

اَللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ

وَإِذَا أَمْسَى قَالَ: اَللَّهُمَّ مَا أَمْسَى بِيْ

“Ya Allah, nikmat yang kuterima atau diterima seseorang di antara makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatkan syukur (dari seluruh makhluk-Mu).”[1]

Jika sore hari tiba mengucapkan, “Ya Allah, nikmat apa pun yang kuperoleh sore ini…”

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Ghannam Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits, bahwa orang yang mengatakannya, maka dia telah menunaikan kesyukuran pada harinya. Dan barangsiapa mengucapkannya sedemikian rupa ketika sore tiba, maka dia telah menunaikan kesyukuran pada malamnya.”

Ungkapan مَا أَصْبَحَ ‘kuterima pagi ini’, dengan kata lain, apa-apa yang menjadi teman bagiku berupa kenikmatan.

Ungkapan فَمِنْكَ ‘adalah dari-Mu’, dengan kata lain, dari-Mu dan dari karunia-Mu.

Ungkapan وَحْدَكَ ‘Maha Esa Engkau, penegasan bagi ungkapan فَمِنْكَ ‘adalah dari-Mu’ dan لاَ شَرِيْكَ لَكَ ‘tiada sekutu bagi-Mu’. Penegasan dengan وَحْدَكَ ‘Maha Esa Engkau’ arti-nya bahwa semua yang kudapatkan berupa kenikmatan pada pagi ini adalah dari-Mu saja. Tiada yang menyertai-Mu seiain Dzat-Mu sendiri dalam memberikannya.

Ungkapan فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ ‘bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatkan syukur (dari seluruh makhluk-Mu)’, dengan kata lain, bagi-Mu segala puji dengan lisanku karena apa-apa yang telah Engkau berikan. Juga bagi-Mu kesyukuran dengan semua anggota tubuhku atas apa-apa yang telah Engkau utamakan. Digabungkan antara puji dan kesyukuran adalah karena puji itu merupakan penghulu kesyukuran dan kesyukuran adalah penyebab adanya pertam-bahan. Allah Ta’ala berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu …” (Ibrahim/14: 7)

Ungkapan kesyukuran kepada Yang memberi kenikmatan adalah wajib. Allah Ta’ala berfirman,

وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

“Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah/2: 152).[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 257-259.


[1]     Ditakhrij Abu Dawud, (4/318), no. 5073; An-Nasa’i, ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 7; Ibnu As-Sunni, no. 41; Ibnu Hibban, (Mawarid) no. 2361 dan Ibnu Baaz menghasankan isnadnya, Tuhfah Al-Akhyar, hlm. 24. Dan telah didhaifkan Syaikh Al-Albani Rahimahullah. Lihat Al-Kalim Ath-Thayyib, no. 26.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: