Biografi Mu'adzah binti 'Abdillah

MU’ADZAH BINTI ‘ABDILLAH AL-‘ADAWIYYAH
Wanita Shalihah Bersuami Lelaki Taat Beribadah

Mu’adzah binti ‘Abdillah al-‘Adawiyyah, nama kunyahnya Ummu Shahba. Beliau adalah salah seorang wanita yang berasal dari kota Basrah. Beliau termasuk dari kalangan Tabi’in dan termasuk dari perawi hadits. Terlahir dalam keluarga yang terbangun di atas pondasi iman dan ketaatan kepada Allah عزّوجلّ, hingga sekat-sekat rumahnya tak pernah menyaksikan kecuali amal shahih yang senantiasa mengisi hari-harinya bersama keluarga. Keluarga yang senantisa hidup dalam naungan cinta kepada kebajikan dan senantiasa memburunya.

Bagaimana tidak, jika kepala rumah tangganya adalah seorang pemuka para ahli ibadah dan suri tauladan bagi orang-orang zuhud. Ditemani seorang istri yang termasuk salah satu wanita kebanggaan para wanita ahli ibadah. Sedangkan anak-anak mereka sangat berbakti terhadap kedua orang tuanya dan mewarisi sifat-sifat baik kedua orang tua mereka. Betapa indahnya kehidupan rumah tangga jika terajut dari individu-individu yang berlatar belakang seperti mereka.

KESHALIHAN SUAMI MU’ADZAH

Suami Mu’adzah bernama Shilah bin Asy-yam al-‘Adawi al-Bashri, dengan kunyah Abu Shahba. Disebutkan dalam kitab Siyar A’lamin Nubala (4/509), bahwa Shilah dan istrinya, Mu’adzah, termasuk thabaqah kedua dari kalangan Tabi’in. Beliau adalah tokoh temama pada masanya, juga termasuk perawi hadits. Hasan al-Bashri dan Tsabit al-Bunani di antara Ulama umat yang berguru kepada Shilah ini.

Ibnu Hazm رحمه الله menyebutkan dalam kitab al-Muhalla (4/321) salah satu hadits yang beliau riwayatkan yaitu dari Sahabat ‘Ammar bin Yasir رضي الله عنه, bahwa beliau berkata: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari ini, maka dia telah menentang Abul Qasim (Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم)”

Sang istri Mu’adzah Al-‘Adawiyah telah memberi kesaksian sendiri tentang keshalihan pribadi suaminya dengan berkata, “Tidaklah Abu Shahba mengerjakan shalat, melainkan setelah itu dia tak bisa kembali ke tempat tidurnya kecuali dengan merangkak “.

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Keutamaan Tsabit bin Qais رضي الله عنه

Tsabit bin Qais رضي الله عنه
Mengkhawatirkan Amalannya Terhapuskan


Nasab Sahabat Tsabit bin Qais

Para Ulama sejarah telah menuliskan garis pernasaban Tsabit bin Qais dalam karya-karya mereka. Lengkapnya, Tsabit bin Qais bin Syammasy bin Zuhair bin Malik bin Imru’ul Qais al-Khazraji al-Anshari رضي الله عنه.

Seorang Orator Kaum Anshar

Sahabat dari kaum Anshar ini dikenal memiliki suara tinggi dan lantang dan baligh (fasih dalam berbicara). Kefasihan dan kecakapan dalam berpidato dengan gaya bahasa sastra tinggi tampaknya turun dari kakek keempatnya, Imru’ul Qais, salah seorang penyair ulung di masa Jahiliyah yang karyanya dipertontonkan di Pasar Ukazh.

Dengan kecakapannya dalam berbicara, Sahabat Tsabit bin Qais رضي الله عنه; didaulat sebagai Khathibul Anshar, pembicara yang mewakili kaum Anshar. Sahabat inilah yang mewakili kaum Anshar untuk berbicara kepada Rasulullah ketika pertama kali datang ke kota Madinah dalam perjalanan hijrahnya dari Mekah. la mengatakan, “Kami akan lindungi engkau sebagaimana kami melindungi diri kami dan anak-anak kami. Jika demikian, apa balasannya bagi kami?”. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “(Balasan bagi kalian adalah) surga”. Orang-orang pun mengatakan, “Kami rela (dengan balasan itu)” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/234 dan menilainya sebagai hadits shahih. Imam adz-Dzahabi menyetujuinya).

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Ibnu Abbas

ABDULLAH BIN ABBAS
Pakar Penafsir al-Qur’an
Oleh: Ustadz Abu Faiz Sholahuddin al-Lampungi

Beliau adalah Abul Abbas Abdullah bin al-Abbas bin Abdil Muththalib bin Hasyim, bin Abdi Manaf al-Qurasyi al-Hasyimi, anak paman Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pada diri beliau terkumpul banyak kemuliaan:

  • Kemuliaan sahabat karena ia salah satu sahabat mulia Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
  • Kemuliaan nasab karena beliau adalah anak paman Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
  • Kemuliaan ilmu karena beliau adalah habrul ummah (ulamanya umat) dan turjumanul qur’an (penafsir al-Qur’an),
  • Kemuliaan takwa karena beliau adalah orang yang banyak puasa di siang hari, banyak shalat di malam hari, dan banyak menangis karena takut kepada Allah عزّوجلّ,
  • Kemuliaan paras karena beliau adalah seorang yang tampan dan gagah, berwibawa, sempurna akalnya, suci hatinya, terhitung di antara laki-laki yang sempurna.

Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi صلى الله عليه وسلم ke Madinah. Tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم meninggal dunia, beliau masih berumur tiga belas tahun. Namun demikian, beliau telah banyak menghafalkan hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم, hingga tercatat jumlah hadits yang beliau hafalkan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebanyak 1.660 hadits. Hai itu tidak mengherankan karena beliau adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi صلى الله عليه وسلم dan selalu bersama beliau ke mana pun beliau berada.

KEUTAMAAN BELIAU

Beliau memiliki banyak sekali keutamaan dan kemuliaan yang tidak dimiliki oleh selainnya. Keutamaan dan kemuliaan beliau didukung oleh beberapa hal, di antaranya:

Pertama: Beliau adalah sahabat yang dido’akan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم untuk difakihkan (dipaham-kan) dalam masalah agama

Beliau menceritakan sendiri, “Suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم memelukku ke dadanya lalu berdo’a, ‘Ya Allah, ajarkan kepadanya hikmah.”[1]

Dalam riwayat lain:

اللَّهُمَّ فَقَّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, fakihkan (pahamkan) ia dalam masalah agama, dan ajarkan padanya takwil (tafsirnya).”[2]

Maka Allah عزّوجلّ mengabulkan do’a Nabi-Nya, sehingga menjadilah Ibnu Abbas رضي الله عنهما imam dalam ilmu, ulamanya umat, dan beliau adalah ahli tafsir al-Qur’an al-Karim berkat do’a Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Hindun binti ‘Utbah

HINDUN BINTI ‘UTBAH
Bahagia Dengan Hidayah Islam
Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Beliau seorang wanita yang pada masa jahiliyahnya adalah sangat benci terhadap Islam dan berdiri di barisan terdepan dalam memerangi Islam. Ia adalah Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan, dan juga ibu dari Kholifah Umawiyah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Hindun رضي الله عنها adalah seorang wanita cerdas dan terhormat, yang terlahir sebagai bangsawan Quroisy sehingga menjadikannya seorang wanita yang angkuh dan sangat keras kemauan, bahasanya fasih, ahli dalam bersyair, pandai menunggang kuda, mempunyai jati diri, dan mempunyai ide-ide cemerlang. Hindun adalah wanita yang sangat terkenal baik sebelum keislamannya maupun setelah itu.

SEBELUM KEISLAMANNYA

Kebencian Hindun binti ‘Utbah terhadap Islam mulai bersarang di hatinya dari awal munculnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersama dakwahnya. Dan setelah terjadinya Perang Badar, kebenciannya bertambah kuat dengan adanya dendam yang membara di hatinya kepada pembunuh ayah, paman dan saudara laki-laki nya di peperangan itu. Sampai-sampai ia bernadzar akan mengunyah-ngunyah jantung orang itu jika ia dapat membunuhnya.[1]

Hindun binti ‘Utbah yang telah dikuasai amarahnya, membuat rencana yang sangat matang untuk melampiaskan dendamnya terhadap pembunuh orang-orang terdekatnya itu. Untuk tugas membunuh ia serahkan kepada seorang budak yang bernama Wahsyi yang ia janjikan kebebasan bila berhasil membunuh musuhnya yang tak lain adalah Hamzah bin Abdil Muththolib, paman Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan saudara sesusuan beliau. Dan bila telah terbunuh maka ia sendiri yang akan mengambil jantungnya, untuk menunaikan nadzarnya yang gila itu.

Maka pada Perang Uhud niatnya itu terwujud dan terlaksana sesuai dengan apa yang ia rencanakan. Pada perang itu Hindun mendampingi suaminya yang memimpin barisan kaum musyrikin untuk menghadapi kaum muslimin.

Di sana Hindun mempunyai peran penting, yang mana ia memimpin para wanita untuk memberikan dukungan kepada suami dan kerabat mereka yang berperang menghadapi kaum muslimin dengan menabuh gendang dan melantunkan sya’ir-sya’ir. Dan bila ada pasukan yang ingin kabur atau mundur maka mereka mendorong mereka kembali ke medan perang.

Ketika Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, datanglah Hindun ke dekatnya dan langsung merobek perut Hamzah yang sudah tak bernyawa itu dan mengambil jantungnya lalu ia mengunyahnya kemudian memuntahkannya, sehingga ia dikenal dengan sebutan aakilatul akbaad (pemakan jantung). Tidak cukup dengan itu saja, ia juga mengambil hidung dan telinganya dan menjadikannya sebagai kalung. Baca pos ini lebih lanjut

Profil Ustadz Badrussalam

Nama beliau adalah Abu Yahya Badrussalam. Beliau lahir pada tanggal 27 April 1976 di desa Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor, tempat dimana studio Radio Rodja berdiri.

Pendidikan

Beliau menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Fakultas Hadits pada tahun 2001

Guru

  • Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, belajar kitab Sunan An Nasai dan sebagian Sunan Abu Dawud.
  • Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad , belajar Kitab At Tauhid, Mandzumah Haiyah
  • Syaikh Muhammad bin Khalifah At Tamimi, belajar Hamawiyah Kubra dan sebagian kitab Al Aqidah At Tadmuriyah.
  • Syaikh Nashir Al Faqihi, belajar sebagian kitab As Sunnah Ibnu Abi ‘Ashim.
  • Masyayikh yang mengajar di fakultas hadits Universitas Islam Madinah.

Kegiatan

  • Pembina dan pengasuh Radio Rodja
  • Pengajar di Ma’had Takhassus ‘Ulum Syar’iyyah, Cileungsi – Bogor.
  • Pengisi beberapa kajian rutin dan majelis ta’lim di daerah Cileungsi dan sekitarnya

Karya Tulis

  1. Buku berjudul “Keindahan Islam dan Perusaknya”, Penerbit: Pustaka Al Bashirah
  2. Buku berjudul “Kunci Memahami Hadits Nabi“, Penerbit: Pustaka Al Bashirah
  3. Buku berjudul “Meniti Jalan Kebenaran, Solusi Kebingungan di Tengah Keanekaragaman Pemikiran “, Penerbit: Pustaka Al Bashirah
  4. Buku berjudul “Menyelami Samudera Basmalah“, Penerbit: Pustaka Darul Ilmi
  5. Buku berjudul “Panduan Hidup Di Akhir Zaman“, Penerbit: Pustaka Al Bashirah
  6. Buku berjudul “Pengaruh Niat dalam Kehidupan“, Penerbit: Pustaka Al Bashirah
  7. Buku berjudul “Sebaik-baik Kamu yang Mempelajari al-Qur’an dan Mengajarkannya“, Penerbit: Pustaka Al Bashirah
  8. Berbagai tulisan di beberapa majalah dan website islami

***

Artikel www.CintaSunnah.com dimuat ulang di doandzikir.wordpress.com

Abu Hurairah, Pribadi yang Mengagumkan

Pribadi Beliau Mengagumkan[1]

Musuh-musuh Islam selalu mengintai dan mencari kelengahan kaum muslimin, kemudian melemparkan syubhat-syubhat untuk membuat keraguan atas kebenaran Islam. Mereka berusaha mengaburkan sejarah emas generasi sahabat, dengan mencoba mencela dan melecehkannya, khususnya para perawi hadits dari Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya, yaitu perawi yang banyak meriwayatkan hadits Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dialah Abu Hurairah. Oleh karenanya, kita perlu mengetahui sejarah kehidupannya, agar kaum muslimin memiliki hujjah, tidak terbawa arus propaganda dan provokasi musuh-musuh Islam.

Nama dan Nasabnya

Namanya pada masa jahiliyah –menurut pendapat yang rojih- adalah Abdu Syams, sebagaimana ditetapkan Imam Bukhari, at-Tirmidzi dan al-Hakim. Adapun setelah masuk Islam, namanya telah dirubah oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini, dikarenakan tidak boleh memberi nama seseorang dengan nama “hamba fulan” (Abdul Fulan) atau hamba sesuatu. Yang boleh, hanya hamba Allah (Abdullah) semata, sehingga beliau diberi nama Abdullah atau Abdurrahman, namun Abdurrahman-lah yang lebih rojih.

Nama tersebut merupakan salah satu nama dari sekian nama-nama yang dimiliki Abu Hurairah. Menurut Al Hakim, nama itulah yang paling shah. Akan tetapi, Abu Ubaid berkata, bahwa nama beliau adalah Abdullah;dan Ibnu Khuzaimah terbiasa menggunakan nama tersebut.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Ringkas Imam Al-Khatib Al-Baghdadi Asy-Syafi’i

Nama lengkap beliau adalah Syaikh Imam Abu Bakar Muhammmad Ahmad bin Ali bin Tsabit, atau lebih populer dengan sebutan “Al Khathib Al Baghdadi”. Beliau adalah seorang penulis yang produktif, di antara karyanya yang paling terkenal adalah Tarikh Baghdad.

Beliau رحمه الله dilahirkan pada tahun 392 H dari keluarga miskin di Irak. Ayahnya bernama Khathib Darzanjan. Ia sangat terobsesi dengan sang anak. Ia masukkan anaknya ke majelis semaan (pengajian dengan sistem menyimak/talaqi) sejak dini (tahun 403 H), kemudian disuruhnya ia memperdalam ilmu hadits. Maka, sang anak pun pergi mengembara ke berbagai wilayah, memperdalam ilmu, mengarang, dan mengumpulkan literatur. Ia sangat mahir dalam disiplin ilmu hadits.

 Beliau menyimak (hadits dari) sejumlah besar kalangan muhadditsin yang tsiqah (kredibel) di berbagai kawasan, seperti: Baghdad, Bashrah, Naisabur, Ashbahan, Dainur, Hamadan, Kufah, Haramain (Makkah dan Madinah), Damaskus, Al Quds, dan lain-lain. Beliau datang ke Syam (Syiria) pada tahun 451 H dan menetap di sana selama 11 tahun.

Baca pos ini lebih lanjut