Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (6)

مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membaca: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ ‘Mahasuci Allah Yang Mahaagung, dan pujian untuk-Nya’, maka ditanam untuknya sebatang pohon kurma di surga.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu.

 غُرِسَتْ ‘ditanamkan’. Dikatakan, “Sebatang pohon ditanam”, jika pohon itu telah ditegakkan di atas bumi.

 نَـخْلَةٌ ‘pohon kurma’, dengan kata lain, setiap satu kali mengucapkan dzikir itu, maka baginya sebatang pohon kurma dalam surga.

Dikhususkan pohon kurma karena sangat banyak manfaatnya dan buahnya yang sangat bagus. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 608-609.


[1]     Ditakhrij At-Tirmidzi, (5/511), no. 3464-3465; dan Al-Hakim, (1/501); dishahihkan serta disepakati Adz-Dzahabi. Lihat Shahih Al-Jami’, (5/531), no. 6429; dan Shahih At-Tirmidzi, (3/160).

Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (5)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيْحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيْئَةٍ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari. Seorang dari anggota majelis bertanya, ‘Bagaimana caranya di antara kita bisa memperoleh seribu kebaikan (dalam sehari)?’ Beliau bersabda, ‘Hendaklah dia bertasbih seratus kali, maka ditulis seribu kebaikan baginya atau dihapuskan darinya seribu keburukan.'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu.

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ ‘apakah seseorang di antara kamu tidak mampu’, hamzah di awal kalimat itu adalah kata tanya dengan bentuk pengingkaran. Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (4)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لأَنْ أَقُوْلَ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sungguh aku mengucapkan: سُبْحَانَ اللهِ ‘Mahasuci Allah’, وَالْـحَمْدُ لِلَّهِ ‘Segala puji hanya ‘bagi Allah’, وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ ‘Tiada Tuhan Fang berhak disembah selain Allah’, dan وَاللهُ أَكْبَرُ “Allah Mahabesar’ lebih kusukai daripada apa-apa yang diterangi matahari (bumi dan seisinya).”[1]

Shahabat yang rneriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya agar selalu meluangkan waktu untuk bertasbih, bertahmid, bertahlil, dan bertakbir. Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (3)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَـانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Dua kalimat yang ringan di lidah, pahalanya berat di timbangan (hari Kiamat) dan diantai Tuhan Yang Maha Pengasih adalah: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ‘Mahasuci Allah dan segala puji hanya bagi-Nya dan سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ Mahasuci Allah Yang Mahaagung’.”[1]

Shahabat yang  meriwayatkan  hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Memang dua kalimat di atas sangat ringan pada lisan ditinjau dari sedikitnya kata yang ada pada keduanya dan sangat mudah mempelajarinya.

Kedua kalimat itu sangat berat dalam timbangan karena disebutkan dalam hadits,

الْـحَمْدُ لِلَّهِ تَـمْلَأُ الْـمِيْزَانَ، وَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ يَـمْلَآنِ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بيْنَهُمَا

Ungkapan الْـحَمْدُ لِلَّهِ ‘Segala puji hanya bagi Allah’ akan memenuhi timbangan. Dan سُبْحَانَ اللهِ، وَالْـحَمْدُ لِلَّهِ ‘Mahasuci Allah dan segala puji hanya bagi Allah’ akan memenuhi , apa-apa di antara langit dan barat dan memenuhi langit dan bumi itu sendiri.”[2]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 605-606.


[1]     Al-Bukhari, (7/168), no. 3462; dan Muslim, (4/2072), no. 2694.
[2]     Muslim, no. 223.

Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (2)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، عَشْرَ مِرَارٍ، كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ

‘Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa mengucapkan:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

‘Tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (sepuluh kali), maka dia menjadi seperti orang yang membebaskan empat orang anak Ismail’.”[1]

Telah berlalu dalam penjelasan hadits no. 93. (Syarah Dzikir Pagi dan Petang (18)).[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 605.

 


[1]     Al-Bukhari, (7/67); dan Muslim dengan lafazh darinya, (4/2017).

Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (1)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa mengucapkan: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ‘Mahasuci Allah dan aku memuji-Nya’ dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya akan dihapuskan sekalipun seperti buih di   lautan.”‘[1]

Shahabat yang  meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan حُطَّتْ ‘dihapuskan’, dengan kata lain, diletakkan darinya.

Ungkapan زَبَدِ الْبَحْرِ ‘buih di lautan’, dengan kata lain, seperti buih seluruh air laut. Yang demikian digunakan dalam bentuk mubalaghah ‘melebihkan’, dengan kata lain, jika dipastikan bahwa dosa-dosanya itu berwujud materi dan seakan-akan sebanyak buih air laut, maka Allah Ta’ala mengampuninya dengan ucapan itu.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 604.


[1]     Al-Bukhari, (7/168), no. 6405; dan Muslim, (4/2071), no. 2691.

Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (7-12)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ؟ فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: قُلْ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abdullah bin Qais! Maukah kamu aku tunjukkan perbendaharaan Surga?” “Aku berkata: “Aku mau, wahai Rasulullah!” Rasulullah berkata: “Bacalah: Laa haula walaa quwwata illaa billaah.[1]

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Perkataan yang paling disenangi oleh Allah adalah empat: Subhaanallaah, Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallaah dan Allaahu akbar. Tidak mengapa bagimu untuk memulai yang mana di antara kalimat tersebut.”[2]

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: عَلِّمْنِيْ كَلاَمًا أَقُوْلُهُ. قَالَ: قُلْ: لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ. قَالَ: فَهَؤُلاَءِ لِرَبِّيْ فَمَا لِيْ؟ قَالَ: قُلْ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: ‘Ajari aku dzikir untuk aku baca!’ Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ‘Katakanlah: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah yang banyak. Maha Suci Allah, Tuhan sekalian alam dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.’ Orang Badui itu berkata: ‘Kalimat itu untuk Tuhanku, mana yang untukku?’ Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ‘Katakanlah: Ya Allah! Ampunilah aku, belas kasihanilah aku, berilah petunjuk kepadaku dan berilah rezeki kepadaku.”[3]

كَانَ الرَّجُلُ إِذَا أَسْلَمَ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ ثُمَّ أَمَرَهُ أَنْ يَدْعُوَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

Seorang laki-laki apabila masuk Islam, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam mengajarinya shalat, kemudian beliau memerintahkan agar berdoa dengan kalimat ini: ‘Ya Allah, ampunilah aku, belas kasihanilah aku, berilah petunjuk kepadaku, melindungi (dari apa yang tidak kuinginkan) dan berilah rezeki kepadaku.”[4]

إِنَّ أَفْضَلَ الدُّعَاءِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَأَفْضَلَ الذِّكْرِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ

Sesungguhnya doa yang terbaik adalah membaca: Alhamdulillaah. Sedang dzikir yang terbaik adalah: Laa Ilaaha Illallaah.[5]

الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Kalimat-kalimat yang baik adalah: “Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.[6]

Disalin dari terjemah Hishnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hal. 207-210.


[1]   HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari: 11/213 dan Muslim: 4/2076.
[2]   HR. Muslim: 3/1685.
[3]   HR. Muslim: 4/2072. Abu Dawud menambah: Ketika orang Arab Badui berpaling, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh dia telah memenuhi kebaikan pada kedua tangannya”. 1/220.
[4]  HR. Muslim: 4/2073, menurut riwayatnya ada keterangan: Sesungguhnya kalimat-kalimat tersebut akan mencukupi dunia dan akhiratmu.
[5]  HR. At-Tirmidzi: 5/462, Ibnu Majah: 2/1249, Al-Hakim: 1/503. Menurut Al- Hakim, hadits tersebut adalah shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya, Lihat pula Shahihul Jami’: 1/362.
[6] HR. Ahmad no. 513 menurut penertiban Ahmad Syakir, sanadnya shahih, lihat Majma’uz Zawa’id: 1/297, Ibnu Hajar mencantumkannya di Bulughul Maram dari riwayat Abu Sa’id kepada An-Nasa’i. Ibnu Hajar berkata: “Hadits tersebut adalah shahih menurut pendapat Ibnu Hibban dan Al-Hakim.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.130 pengikut lainnya.