eBook Syarat-Syarat Terkabulnya Doa

Nama eBook: Syarat-Syarat Berdoa
Penulis: Syaikh Sa’id bin Ali Wahf al-Qahthani

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله :وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ:

Do’a dan ta’awudz (mohon perlindungan) ibarat senjata. Kehebatan senjata bergantung kepada pemakainya, bukan hanya dari ketajamannya saja, apabila senjata telah sempurna tidak ada cacatnya, lengan yang menggunakannya kuat, dan penghalang tidak ada, niscaya dapat membinasakan musuh. Apabila kurang salah satu dari tiga perkara ini, maka pengaruhnya tidak akan ada. Demikian pula dengan do’a, apabila isi do’a tidak baik, atau orang yang berdo’a tidak menggabungkan antara hati dan lisannya, atau adanya penghalang bagi terkabulnya do’a, maka do’a tidak akan berhasil.

Pelajarilah syarat-syarat berdo’a dan hal-hal yang menghalangi terkabulnya do’a, di dalam pembahasan berikut akan dijelaskan syarat-syarat berdo’a.

Syarat-syarat terpenting bagi terkabulnya do’a ialah:

  1. Ikhlas
  2. Mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam berdo’a
  3. Percaya dan yakin diterima Allah
  4. Menghadirkan hati sewaktu berdo’a dan khusyu’, mengharapkan ganjaran pahala dari Allah dan takut kepada adzab-Nya
  5. Adanya keinginan yang kuat, dan kesungguhan dalam berdo’a

Selamat menyimak penjelasan dari syarat-syarat tersebut dalam eBook ini dan semoga Allah mengabulkan do’a-do’a kita sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mengabulkan Do’a…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word

Doa dan Bencana

Do’a merupakan sebab paling kuat untuk menolak sesuatu yang tidak diinginkan, mencapai sesuatu yang diharapkan, termasuk obat yang paling bermanfaat dan musuh bagi bencana karena dapat menolak dan mengobatinya, mencegah dan menghindarkan atau meringankan apabila telah datang menimpa. Do’a merupakan senjata orang yang beriman. Kedudukan do’a dengan bencana ada tiga:

  1. Do’a lebih kuat dari bencana, maka do’a menolak bencana yang akan turun.
  2. Do’a lebih lemah dari bencana, bencana lebih kuat, karenanya musibah pun menimpa seseorang, akan tetapi do’a bisa meringankan walaupun sedikit.
  3. Do’a dan bencana saling beradu kekuatan.

Dari Abdullah Ibnu Umar رضي الله عنهما dari Nabi صلى الله عليه وسلم beliau bersabda,

الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِـمَّا نَزَلَ وَمِـمَّا لَـمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ

“Do ‘a itu memberi manfaat kepada sesuatu yang telah diturunkan Allah, dan yang belum, oleh sebab itu berdo’alah kamu wahai hamba-hamba Allah. ” (HR. al-Hakim dan Ahmad).

Dari Salman رضي الله عنه beliau berkata bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيْدُ فِي العُمرِ إِلاَّ الْبِرُّ

“Tidak akan menolak ketentuan Allah kecuali do ‘a. Dan tidak akan menambah umur seseorang kecuali kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim).[]

Disalin dari Agar Do’a Dikabulkan Berdasarkan al-Qur’an & as-Sunnah, Karya Syaikh Sa’id bin Ali Wahf al-Qahthani, hal. 17-18, Darul Haq-Jakarta.

eBook Pengertian Do’a, Dzikir dan Macam-Macamnya

Nama eBook: Pengertian dan Macam-Macam Do’a
Penulis: Syaikh Sa’id bin Ali Wahf al-Qahthani

Pengantar:

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Sebagai seorang muslim kita menyatakan ‘hanya kepada Allah kita Beribadah dan Hanya kepada-Nya kita Meminta’, sebab hal tersebut kita selalu mengingat-Nya dan berdo’a kepada-Nya.

Do’a berarti permohonan hamba kepada Rabbnya dengan cara memohon dan meminta, bisa pula berarti mensucikan, memuji dan makna yang sejenis dengan keduanya; dan do’a adalah bagian dari dzikir.

Pengertian dzikir adalah melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa kepada Allah. Yang dimaksud dengan lalai ialah meninggalkan sesuatu dengan usaha manusia itu sendiri. Dan yang dimaksud dengan lupa ialah meninggalkan sesuatu tanpa usaha dari manusia tersebut.

Hal tersebut diatas diantara hal yang dibahas dalam eBook ini, disamping itu juga dijelaskan pembagian dzikir ditinjau dari berbagai sisi, tingkatannya dan macam-macam dzikir, semoga kita memahami dan dapat mengamalkannya, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word

Kedudukan Doa-Doa Para Nabi

Dalam Al-Qur’an mulia terdapat ayat-ayat sangat banyak, di mana Allah Azza wa Jalla menyebutkan padanya contoh-contoh dari doa-doa para nabi dan  utusan, munajat mereka kepada Rabb mereka, tawassul mereka kepada-Nya, ketergesaan mereka kepada-Nya, keluluhan mereka di hadapan-Nya, kehinaan mereka, ketundukan mereka, rasa harap dan takut mereka, kesempurnaan adab mereka dalam munajat, serta kerendahan mereka, dan doa-doa mereka. Semua ini disebutkan agar hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang beriman mengetahui cara yang benar dan jalan lurus serta jalur tepat dalam berdoa kepada Rabb Azza wa Jalla serta munajat kepada-Nya.

Oleh karena itu, ketika Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalam surah Al-An’am. sekelumit berita-berita mereka yang penuh berkah, amal-amal mereka yang agung, dan sifat-sifat mereka yang utama, maka Dia Azza wa Jalla berfirman;

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

“Mereka itulah orang-orang diberi petunjuk oleh Allah, maka dengan petunjuk mereka hendaklah engkau mengambil teladan.” (QS. Al-An’am/6: 90)

Di sini terdapat perintah bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti sunnah-sunnah mereka, komitmen terhadap jalan mereka, dan sekaligus arahan bagi umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menjadi seperti itu. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan apa yang diperintahkan dan menerapkannya dengan sebenar-benar penerapan. Beliau mengambil petunjuk dengan petunjuk para rasul sebelumnya. Mengumpulkan semua kesempurnaan pada mereka. Hingga terkumpul padanya keutamaan-keutamaan yang penuh berkah dan perilaku-perilaku agung yang mengungguli semua manusia di alam ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjadi penghulu para rasul pemimpin orang-orang   bertakwa, dan teladan orang-orang shalih. Semoga shalawat dan salam-Nya dilimpahkan kepadanya dan kepada semua nabi dan rasul.

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Waktu Pagi dan Keberkahannya

Imam Muslim  meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah Al-Asadiy, dia berkata, “Suatu hari, kami pergi di waktu pagi menuju Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tepatnya setelah selesai mengerjakan shalat Shubuh. Kami memberi salam di pintu dan beliau  memberi izin kepada kami.” Beliau (Abu Wa’il) berkata, “Kami berdiam sesaat di pintu” (yakni menunggu beberapa waktu lamanya). Lalu seorang perempuan keluar dan berkata,  “Tidakkah kamu mau masuk?” Lalu kami pun masuk. Ternyata beliau (Ibnu Mas’ud) sedang duduk bertasbih. Beliau berkata, “Apa yang menghalangi kalian untuk masuk sementara telah diizinkan kepada kamu?” Kami berkata, “Tidak ada, hanya saja kami mengira sebagian penghuni rumah masih tidur.” Beliau berkata,  “Kamu menduga keluarga Ibnu Ummi Abdin lalai?” (Maksudnya, dirinya sendiri, karena ibu Ibnu Mas’ud adalah Ummu Abdin Al-Hudzaliyah radhiyallahu ‘anha). Abu Wa’il berkata, “Lalu beliau meneruskan bertasbih. Hingga ketika dia menduga matahari telah terbit maka beliau berkata,  ‘Wahai perempuan,  lihatlah  apakah matahari telah terbit?’ Perempuan itu melihat dan temyata matahari belum terbit. Maka beliau kembali melanjutkan bertasbih. Hingga ketika dia mengira matahari telah terbit maka beliau berkata, ‘Wahai perempuan, lihatlah apakah matahari telah terbit?’ Perempuan itu melihat dan temyata matahari telah terbit. Maka beliau berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memaafkan kita hari ini dan tidak membinasakan kita dengan sebab dosa-dosa kita.'”[1]

Atsar ini memberikan kepada orang yang mencermati akan gambaran jelas dan petunjuk yang terang akan kehidupan yang penuh kesungguhan, semangat yang tinggi, dan pemamfaatan waktu di kalangan salafusshalih. Terutama sekali para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Disertai pemahaman mereka tentang waktu-waktu, pengetahuan mengenai kadar-kadarnya, serta yang lebih utama darinya, dan memberikan setiap pemilik hak akan haknya.

Waktu di mana Abu Wa’il dan para sahabatnya menemui Ibnu Mas’ud adalah waktu yang mengandung berkah dan sangatlah berharga. la adalah waktu dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kesungguhan, kegiatan, dan semangat dalam kebaikan. Hanya saja banyak di antara manusia mengabaikannya dan melalaikannya serta tidak mengetahui baginya martabat dan kedudukannya. Terkadang mereka menyia-nyiakannya dengan tidur, atau bermalas-malasan dan kurang semangat, atau menyibukkan dengan urusan-urusan yang rendah. Padahal awal hari menempati posisi masa mudanya, dan akhirnya menempati posisi masa tuanya.[2] Barang siapa pada masa muda terbiasa dengan sesuatu niscaya dia akan terbiasa dengannya hingga beruban. Oleh karena itu, apa yang berlaku atas seseorang di pagi hari dan awalnya, niscaya akan berlangsung terus atasnya di sisa harinya. Jika giat maka akan terus giat, bila malas niscaya akan terus malas. Barang siapa memegang kendali hari (yaitu awalnya), maka akan selamat baginya harinya seluruhnya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan diberi pertolongan untuk mendapatkan kebaikan, serta diberkahi untuknya padanya. Dalam pribahasa dikatakan, “Harimu seperti untamu. Jika engkau memegang awalnya, niscaya akhirnya akan mengikutimu.” Makna ini diambil dari atsar Ibnu Mas’ud terdahulu, di mana ketika telah terealisasi bagi beliau radhiyallahu ‘anhu pemanfaatan awal hari itu dengan dzikir maka beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang memaafkan kita hari ini dan tidak membinasakan kita dengan sebab dosa-dosa kita.”

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Doa Dalam Al-Qur’an dan Hadits

KEDUDUKAN DOA-DOA YANG DISEBUTKAN
DALAM AL-KITAB DAN AS-SUNNAH

Sungguh kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kitab kebaikan dan keberuntugan bagi manusia. Orang-orang yang berbahagia meneguk dari mata airnya. Orang-orang yang  diberi  taufik di  antara  hamba-hamba Allah mengambil petunjuk dengan petunjuknya. la menunjuki mereka kepada jalan lurus. Ia paling baik bimbingannya dan paling bermanfaat dalam segala bidang; aqidah, ibadah, maupun akhlak. Ia menunjuki mereka kepada   setiap   kebaikan   dan   keberuntungan   agama   dan dunia. Dengannya urusan-urusan  mereka menjadi  tegak, jiwa-jiwa mereka menjadi suci, keadaan-keadaan mereka menjadi stabil, jalan mereka menjadi lurus, dan didapatkan untuk mereka kesempurnaan yang  beragam dari segala sisi. Ia adalah kitab ilmu dan pengajaran. Dengannya runtuh kesesatan-kesesatan yang sangat banyak dan kebodohan-kebodohan yang bermacam-macam. Ia adalah kitab tarbiyah dan pembinaan. Dengannya terealisasi akhlak-akhlak utama dan amal-amal mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkannya sebagai petunjuk bagi semesta alam, bashirah bagi orang-orang bertakwa, dan penerangan bagi orang-orang yang  menempuh  perjalanan.  Allah  Subhanahu wa Ta’ala  mengumpulkan padanya ilmu-ilmu yang bermanfaat dan makna-rnakna yang agung lagi sempurna.

Barang siapa berpegang dengannya niscaya telah diberi petunjuk dan siapa berjalan di atas titiannya niscaya beruntung. Karena ia adalah pintu hidayah paling agung dan jalan keberuntungan paiing mulia. Allah  berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sungguh Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada yang lebih dan lurus memberi kabar gembira bagi orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang mengerjakan amal-amal shalih, bahwa untuk mereka pahala yang besar.” (QS. Al-Israa’/17: 9)

Baca pos ini lebih lanjut

Dzikir-dzikir Dua Tepi Siang

Sesungguhnya di antara dzikir-dzikir dan doa-doa yang ditugaskan oleh syara yang bijaksana atas setiap Muslim sehari semalam, adalah dzikir-dzikir dua tepi siang, bahkan ia adalah dzikir yang paling luas dari jenis dzikir-dzikir muqayyad (dzikir yang terikat dengan sesuatu), dan paling banyak disebutkan dalam nash-nash, tentang anjuran terhadapnya dan motivasi kepadanya. Ia terdiri dari beragam dzikir yang diucapkan pada dua waktu utama ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا

“Wahai sekalian manusia, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. Bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab/33: 41-42)

Kata ‘Al-Ashiil’ (petang) pada ayat itu adalah waktu antara Ashar hingga matahari terbenam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Dan Bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu pada petang dan pagi hari”. (QS. Ghafir/40: 55)

‘Al-Ibkaar’ yaitu permulaan siang hari, sedangkan al-‘Asyiy yaitu penghujungnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ

“Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam.” (QS. Qaaf/50: 39)

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

“Mahasuci Allah ketika kamu berada di sore hari dan ketika kamu di pagi hari.” (QS. Ar-Rum: 17)

Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini cukup banyak.

Waktu mengucapkan dzikir-dzikir ini adalah awal waktu pagi, sejak selesai shalat Shubuh hingga sebelum matahari terbit, sedangkan sore hari adalah sesudah shalat Ashar hingga sebelum matahari terbenam. Meski demikian, persoalan waktu ini mengandung kelonggaran—Insya Allah—, seperti kalau seseorang lupa mengerjakan pada waktunya, atau ada sesuatu yang harus dihadapinya, maka tidak mengapa melakukan dzikir-dzikir pagi hari sesudah matahari terbit, dan dzikir-dzikir sore sesudah matahari terbenam.

Adapun tentang dzikir-dzikir dan doa-doa yang diucapkan pada kedua waktu yang utama ini, maka ia sangatlah banyak dan beragam, akan datang -Insya Allah- sejumlah pilihan darinya, disertai penjelasan sedikit tentang makna-maknanya yang agung, dan indikasi-indikasinya yang berharga.[1][]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, Karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 10-11.


[1]  Kemudian Syaikh –semoga Allah menjaganya- menyebutkan dzikir-dzikir pagi dan petang disertai penjelasannya. Alhamdulillah di blog ini dan www.ibnumajjah.wordpress.com telah kita sajikan hal tersebut dari karya ulama dan ustadz lainnya. Ibnu Majjah