Mengobati Bagian Tubuh yang Sakit

APA YANG HARUS DILAKUKAN DAN DIUCAPKAN
ORANG YANG TUBUHNYA TERASA SAKIT

ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّـمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ (ثَلَاثًا) وَقُلْ (سَبْعَ مَرَّاتٍ): أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Letakkah tanganmu pada tubuhmu yang terasa sakit, dan bacalah: بِاسْمِ اللَّهِ ‘Dengan nama Allah’ (tiga kali). Dan ucapkan (tujuh kali): أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ ‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan yang aku takuti’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ustman bin Abi Al-Ash Radhiyallahu Anhu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (8)

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

“Ya Allah, selamatkan tubuhku. Ya Allah, selamatkan pendengaranku dan penglihatanku. Tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau.” (Dibaca tiga kali).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Bakarah Nufai’ bin Al-Harits bin Kaladah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ ‘ya Allah, selamatkan tubuhku’, dengan kata lain, selamatkan aku dari berbagai bencana dan penyakit pada badanku.

Ungkapan اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ….بَصَرِيْ ‘selamatkan pendengaranku dan penglihatanku’. Ini adalah khusus datang setelah umum. Ungkapan بَدَنِيْ ‘badanku’ mencakup seluruh badan. Akan tetapi, dikhususkan dua macam indra tersebut adalah karena keduanya jalan menuju hati yang mana de-ngan kesehatan keduanya, maka sehatlah anggota badan seluruhnya. Dan dengan rusaknya kedua alat itu, maka merusakkan seluruh anggota badan.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 259-260.


[1]     Abu Dawud, (4/324). no. 5090; Ahmad, (5/42), An-Nasa’i, dalam kitab Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 22, Ibnu As-Sunni, no. 69, Al-Bukhari dalam kilab Adab Al-Mufrad. Sanadnya dihasankan Al-Allamah Ibnu Baaz dalam kitab Tuhfah Al-Akhyar, hlm. 26. Juga ada yang dilemahkan Syaikh Al-Albani Rahimahullah. Lihat Dhaif Al-Jami’. no. 1210.

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ.وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ . إِلَهِ النَّاسِ . مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tiada seorang pun yang setara dengan Dia.’ Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai shubuh, Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila  telah gelap-gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila dia dengki.” Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia’.” (Dibaca tiga kali).[1]

Baca pos ini lebih lanjut

Ucapan Bila Orang Kafir Memuji Allah Ketika Bersin

يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Semoga Allah memberi hidayah kepadamu dan memperbaiki kondisimu.”[1]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 464.


[1] At-Tirmidzi, (5/82), no. 2739; Ahmad, (4/400), dan Abu Dawud, (4/308), no. 5038. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (2/354).

Syarah Doa Bagi Orang yang Menawarkan Hartanya

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ

“Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu.”[1]

Ini adalah atsar dari ucapan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa dia berkata,

قَدِمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ الْمَدِينَةَ فَآخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ الأَنْصَارِيِّ، وَكَانَ سَعْدٌ ذَا غِنًى، فَقَالَ لِعَبْدُ الرَّحْمَنِ: أُقَاسِمُكَ مَالِي نِصْفَيْنِ وَ أُزُوِّجُكَ، قَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ، فَمَا رَجَعَ حَتَّى اسْتَفْضَلَ أَقِطًا وَسَمْنًا، فَأَتَى بِهِ أَهْلَ مَنْزِلِهِ، فَمَكَسْنَا يَسِيْرًا -أَوْ ماشَاءَ اللهُ- فَجَاءَ وَعَلَيْهِ وَضَرٌ مِنْ صُفْرَهٍ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْيَمْ؟ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ، قَالَ: مَا سُقْتَ إِلَيْهَا؟ قَالَ: نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ -أَوْ وَزْنٌ مِنْ ذَهَبٍ- فَقَالَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Ketika Memejamkan Mata Mayit

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلاَنٍ (بِاسْمِهِ) وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ، وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِيْنَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ

“Ya Allah, ampunilah fulan (sebut namanya), angkat derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk. Hendaklah Engkau menjadi pengganti untuk anak turunannya yang ditinggalkan. Ampunilah kami dan dia wahai Tuhan penguasa alam. Luaskan baginya dalam kuburannya dan berilah penerangan di dalamnya.” [1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Ummu Salamah Radhiyallahu Anha.

Disebutkan pada permulaannya ucapan Ummu Salamah Radhiyallahu Anha,

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ…

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi Abu Salamah yang matanya telah terbelalak. Beliau memejamkannya lalu bersabda, ‘Sesungguhnya jika ruh dicabut, maka diikuti mata.’ Sehingga guncanglah semua orang dari keluarganya. Maka, beliau bersabda, ‘Ja-nganlah kalian berdo’a buruk atas diri kalian, kecuali do’a yang baik-baik, sungguhnya para malaikat menga-minkan apa-apa yang kalian ucapkan.’ Kemudian beliau berucap: ‘Ya Allah, ampunilah Abu Salamah …’.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Talkin Bagi Orang yang Sekarat

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa akhir ucapannya adalah لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ ‘Tiada Tuhan selain Allah’, dia akan masuk surga.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ungkapan لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ ‘tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah’ dalam hadits ini dan hadits lainnya ialah dua kalimat syahadat.”

Al-Kirmani Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ungkapan لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ ‘tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah’ adalah kalimat dimaksudkan dengan apa yang dikandungnya, yaitu Muhammad adalah Rasul Allah.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 390.


[1]     Abu Dawud, (3/190), no. 3116. Lihat Shahih Al-Jami’ (5/432), no. 6479.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.111 pengikut lainnya.